Sudah Adilkah Anda pada Pasangan? Ayo Segera Recovery

Jelang akhir tahun adalah waktu tepat untuk menjawab sudah berlaku adilkah kita pada pasangan. Berbagai hal bernilai minus harus didata cermat untuk segera recovery meraih yang lebih baik.

Waktu-waktu jelang akhir tahun biasanya waktu yang sangat krusial untuk menyadari apakah hubungan sebuah pasangan telah berjalan pada jalur yang benar atau tidak. Atau, tepatnya, telah berjalan pada jalur sesuai kesepakatan bersama atau tidak.

Jika pada 10 bulan sebelumnya segala kekurangan tertutup sementara oleh berbagai kesibukan kerja dan lainnya, jelang akhir tahun biasanya setiap pasangan seperti ‘dibukakan matanya’. 

Saat kebutuhan refreshing memuncak di akhir tahun, saat itulah ego masing-masing pasangan bermunculan mencari pelampiasan.

Hasilnya, friksi-friksi pun bermunculan. Berpotensi membara atau dengan cepat mampu diredam, tentu, tergantung seberapa dewasa masing-masing pasangan menyikapi hal itu. Pertanyaannya, sudah adilkah Anda pada pasangan sepanjang tahun ini?

cara mempertahankan hubungan

Kesenjangan Laki-laki dan Perempuan

Sudah dari sananya laki-laki dan perempuan memiliki kodrat berbeda. Hanya saja, masih banyak orang menyikapi secara kacau persoalan kodrat ini. Tak jarang bahkan persoalan kodrat dijadikan senjata untuk mencari pembenaran sikap.

Benar bahwa perempuan dianugerahi kodrat mulia untuk mengandung, melahirkan, dan menyusui karena rahim memang dititipkan Tuhan di tubuh perempuan. 

Namun, bukan berarti perempuan hanya pantas berada di garda belakang atau kanca wingking dalam keluarga.

Kodrat mulia perempuan juga sering memunculkan stigma jika perempuan hanya pantas mengerjakan pekerjaan-pekerjaan domestik seperti memasak, mengatur rumah, dan mengurus anak. 

Sebaliknya, sebagai pencari nafkah laki-laki berada di atas dan harus dilayani dan dinomorsatukan.

Banyak contoh bagaimana laki-laki diistimewakan dalam keluarga. Pemenuhan Me Time misalnya. 

-laki dan perempuan memiliki kesempatan beda dalam melakukan kegiatan paling privasi dengan tujuan memberi ruang bagi penemuan diri tersebut.

Rata-rata, laki-laki memiliki waktu luang 28 jam per minggu untuk menuntaskan Me Time. Sedangkan perempuan hanya 25 jam per minggu. 

Selain itu, waktu laki-laki relatif tidak banyak tersita untuk mengurusi kegiatan domestik. Sedangkan perempuan masih harus menambah rata-rata 10 jam per minggu untuk membereskan kegiatan domestik.

pinjaman dana tanpa jaminan langsung cair

Pemicu Pertengkaran

Ketidakadilan dalam pelaksanaan Me Time kerap memicu pertengkaran. Penelitian di University of Michigan menyebut, kesenjangan dalam menuntaskan waktu luang ini bahkan lebih serius dampaknya dibanding ketidakpuasan seksual.

Survei yang digagas Women’s Health dan Men’s Health terhadap 1.400 laki-laki dan perempuan bahkan mengungkap fakta di luar dugaan. Ternyata, 53 persen perempuan berfantasi ingin bercerai! Mengapa?

Rupanya, padatnya kesibukan ditambah tuntutan menyeimbangkan waktu antara keluarga dan pekerjaan yang banyak memicu perempuan ingin berpisah dari suaminya. 

Perempuan merasa sangat tidak nyaman dengan beban stigma yang melekat padanya.

Banyak contoh kasus betapa perempuan ditempatkan pada posisi tidak adil. Pada gilirannya, perempuan mendapat hak tidak sama dalam keluarga. Ambil contoh, asuransi

Perempuan kerap mendapat giliran kesekian untuk memiliki asuransi dalam keluarga. Padahal, secara biologis justru perempuanlah yang lebih membutuhkan jaminan kesehatan.

Intropeksi dan Recovery Pasangan

Tidak ada untungnya ngotot mencari pembenaran atau saling menyalahkan. Segeralah recovery dan introspeksi untuk meraih situasi lebih baik. Berbagai solusi harus dicari untuk menyelamatkan indahnya hubungan. Beberapa tips berikut barangkali cukup membantu: 

Ingat Kembali Soal Kesepakatan

apply kartu kredit online

Ada baiknya mundur ke belakang saat mengikat janji setia. Kesepakatan atau nilai-nilai apa yang selama ini jadi pegangan bersama. Misal, mengutamakan kejujuran dan keterbukaan.

So, berusahalah jujur dan terbuka. Termasuk, jujur dan terbuka terkait penggunaan kartu kredit yang berdampak pada ketahanan finansial keluarga, misalnya.

Pertahankan Pikiran Positif

Cobalah berpikir positif dan menempatkan diri pada posisi pasangan untuk lebih memahami sikap pasangan. Dengan begitu, emosi yang meledak-ledak bisa lebih diredam. 

Ambil contoh, berusahalah memahami ketika pasangan harus menghabiskan waktu lebih di kantor.

Jangan Menghakim

Hindari bersikap seperti penyidik. Tunjukkan complain atas perkataan dan perilaku pasangan dengan cara bijaksana. 

Misal, menghadapi pasangan yang maniak belanja barang-barang branded atau penggemar berat belanjar piranti golf yang super duper mahal.

Hormati dan Jadi Pendengar yang Baik

Dengarkan keinginan terdalam pasangan dengan sikap hormat. Kalau pun tersulut emosi berusahalah tetap hormat dan jangan tunjukkan kemarahan di muka umum. 

Jangan meremehkan, apalagi merendahkan pasangan saat dia membela diri. Berusahalah menjadi partner yang baik saat mendengarkan pembelaan.

Beri Waktu

Jangan terburu-buru menyelesaikan masalah jika memang belum siap. Beri waktu pasangan menenangkan diri sekaligus instrospeksi sebelum memecahkan masalah bersama.

Bercanda dan Berilah Pelukan

pelukan mesra

Bercanda adalah cara efektif mengurai ketegangan. Humor juga jadi jurus jitu mengurai kebuntuan atau pertikaian. Oleh sebab itu, pertahankan sense of humor kendati usia berpasangan telah berpuluh tahun. 

Satu lagi, berpelukan adalah cara efektif untuk meredam ketidaknyamanan dan konflik yang berkembang di tengah pasangan.

Setelah solusi didapat, berusahalah lebih bijaksana dan bersikap adil. Bukankah introspeksi bertujuan mencari jalan keluar bersama dengan lebih baik? 

Bukankah komunikasi dibentangkan untuk mendapatkan bentuk hubungan yang lebih nyaman?

Baca Juga:
Bisnis yang Cocok Dilakukan Pasangan Suami Istri
Cara Mengatur Keuangan Sebelum dan Sesudah Menikah

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama