Menjelajah Waktu bersama Vinyl

Susah move on dari masa lalu? Jangan khawair, masa lalu yang satu ini malah mengajak Anda menjelajah waktu bersama para musisi legendaris, sekaligus berinvestasi.

  • vinyl
  • piringan hitam
  • infografis
  • infographic
  • vector
  • jakarta
  • bandung
  • bali

Banyak orang yang takut terhadap masa lalu. Mengapa? Sebagian berpendapat karena takut terbayang kenangan pahit yang terjadi di masa lampau, khususnya bagi mereka yang pernah mengalami patah hati.

Namun, siapa bilang masa lalu itu selalu pahit dan menyedihkan? Buktinya, barang peninggalan masa lalu yang satu ini malah bisa membawa Anda berpetualang dengan waktu ‘bertemu’ para legenda musik dunia. Wow, bagaimana caranya? Anda bisa bertemu dengan mereka melalui Vinyl.

Apa Itu Vinyl?

Mungkin kata Vinyl terdengar asing di telinga Anda, masyarakat Indonesia lebih mengenal benda yang satu ini dengan nama piringan hitam. Si hitam ini mulai ada sejak tahun 1948 dan baru eksis di Indonesia sekitar tahun 1957. Bertahun-tahun lama sempat tak terdengar eksistensi Vinyl di Indonesia, piringan hitam ini mulai hadir kembali meramaikan industri musik Indonesia pada tahun 2010an. Vinyl kembali menjadi hits setelah para penikmat musik mulai bosan dengan era musik digital. Selain itu, tingkat pembajakan yang tinggi pada era digital juga membawa para musisi untuk kembali ke era analog ini. Hal itulah yang membuat beberapa musisi di Indonesia, seperti Mocca dan D'masiv kembali memproduksi albumnya dalam bentuk piringan hitam.

Lalu, bagaimana cara mengoperasikan Vinyl? Untuk mendengarkan lagu-lagu yang telah terekam di dalam Vinyl, Anda harus menggukan alat yang bernama phonograph. Anda hanya tinggal meletakkan piringan hitam yang Anda miliki di atas sebuah phonograph, kemudian Anda dibawa berpetualang bersama para musisi idola di zaman dahulu.

Kenapa Harus Vinyl?

Mungkin Anda mulai bertanya-tanya mengapa harus memilih Vinyl, jika ada pilihan alat lain yang lebih mudah digunakan untuk mendengarkan musik. Ya, contohnya saja kaset. Meskipun sama-sama digunakan untuk melantukan musik atau rekaman bagi para pendengarnya, baik Vinyl maupun kaset memiliki kelebihan masing-masing.

Kaset hadir ke pasaran pada tahun 1963. Bentuk yang dimiliki terbilang sederhana dengan dua dua lubang yang berguna sebagai alat pemutar pita magnetik yang ada. Namun, terobosan baru ini terbilang kurang berhasil menggeser eksistensi yang dimiliki Vinyl.

Hal ini dikarenakan, pita magnetik yang terdapat pada kaset terbilang sensitif. Pita tersebut tidak boleh dibiarkan kotor dan juga mudah kusut. Selain itu, suara yang terpancar dari pita magnetik itu terkadang tidak dapat terdengar dengan jelas.

Berbeda dengan kaset, Vinyl bersifat tidak mudah rusak dan kualitas suara yang terekam di dalamnya lebih bagus dan jernih. Hal itulah yang membuat eksistensi Vinyl tak lekang oleh waktu.

Tempat Mendapatkannya

Tak perlu cemas jika Anda merasa rindu ingin mendengarkan kembali alunan lagu yang dilantukan oleh The Beatles, Lemon Trees, Koes Plus, Chrisye, Titiek Puspa, dan para musisi legendaris lainnya. Anda bisa mendatangi beberapa tempat penjualan Vinyl yang ada.

Untuk Anda yang tinggal di sekitar wilayah Jakarta, Anda bisa mendatangi jajaran toko antik yang berada di kawasan JL. Surabaya dan Blok M Square untuk mendapatkan piringan hitam dari artis idola Anda. Sedangkan jika Anda tinggal di wilayah Bandung, Anda bisa datang ke sekitaran wilayah kampus Universitas Padjadjaran, tepatnya di JL. Dipati Ukur No. 8. Kemudian, jika Anda tinggal di kawasan Bali bisa mendatangi daerah Kerobokan dekat dengan Denpasar dan juga Anda bisa mencarinya di sekitaran wilayah Legian. Di sana terdapat sebuah gudang tua yang berisi banyak barang antik, dan tentunya Vinyl.

Kisaran Harga

Setelah Anda mengetahui lokasi untuk mendapatkan berbagai Vinyl tersebut, pasti kini Anda mulai bertanya-tanya berapa kisaran harga untuk satu buah Vinyl? Harga dari piringan hitam ini cukup bervariatif, mulai dari Rp20.000 sampai dengan kisaran Rp4.500.000. Untuk jenis piringan hitam yang berisi lagu-lagu jazz dijual dengan harga Rp 25 ribu, sedangkan untuk piringan hitam yang berisi lagu-lagu para musisi legendaris yang sangat terkenal di zamannya bisa mencapai ratusan ribu bahkan jutaan rupiah. Namun, ada pula beberapa kolektor yang mendapatkan Vinyl idamannya dari hasil barter dengan penjual.

Meskipun harga yang ditawarkan terbilang terjangkau, industri piringan hitam ini tetap menjadi bisnis yang menjanjikan, terutama bagi para penggiat hobi Vinyl. Hobi mengoleksi piringan hitam ini bisa Anda jadikan sebagai investasi. Seperti yang telah diketahui bahwa suatu barang yang antik dan semakin sulit untuk didapatkan, pastilah memiliki harga jual yang tinggi. Sama halnya dengan industri Vinyl ini.

Anda pasti tak menyangka sebuah piringan hitam yang dibeli beberapa tahun lalu seharga ratusan ribu bisa terjual hingga jutaan rupiah pada beberapa tahun ke depan. Hal tersebut dibenarkan oleh para penjual piringan hitam. Mereka bisa mengantongi uang sebanyak Rp 20 juta setiap bulannya. Pembelinya tak hanya dari kalangan domestik, melainkan sampai ke kalangan turis asing seperti Jepang.

Nah, apakah kini Anda telah tertarik untuk berinvestasi sambil melakukan petualangan waktu bersama para musisi legendaris dunia?

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama