Syariah Dapat Meningkatkan Kesejahteraan Ekonomi di Indonesia

Syariah mempunyai sejarah yang panjang dalam perkembangannya di Indonesia. Namun, belum banyak orang yang mengetahui persisi bagaimana mengenai seluk-beluknya.

Pertumbuhan ekonomi mempunyai peranan penting dalam perkembangan manusia. Salah satu elemen yang berperan adalah perdagangan, yang merupakan salah satu jenis usaha untuk meningkatkan kesejahteraan hidup. Seiring perkembangan zaman, kelangsungan hidup manusia juga didukung oleh sistem ekonomi Syariah, yang lahir dari ekonomi Islam.

Syariah sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem kapitalisme 

Yang dimaksud ekonomi Syariah adalah ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi rakyat yang di pengaruhi oleh nilai-nilai agama Islam. Ekonomi syariah atau sistem ekonomi koperasi memiliki sistem berbeda dari sistem kapitalisme, sosialisme, maupun negara kesejahteraan yang ada di dunia.

Ini dikarenakan Islam menentang sistem kapitalisme atau eksploitasi oleh pemilik modal terhadap buruh yang miskin, dan melarang penumpukan kekayaan. Selain itu, ekonomi dalam kaca mata Islam merupakan tuntutan kehidupan sekaligus anjuran yang memiliki dimensi ibadah yang teraplikasi dalam etika dan moral.

Bibit-bibit kemunculan syariah sudah ada sejak tahun 80an

Menurut pakar ekonomi syariah, Syaf’i Antonio bibit-bibit tentang ekonomi syariah dan keuangan Islam telah hadir sejak tahun 1980an. Adapun para ahli ekonomi yang terlibat pada waktu itu, seperti Dawam Rahardjo, A.M. Syaefuddin, dan Amin Aziz. Bahkan beberapa lembaga keuangan mikro sempat didirikan seperti Baitut Tamsil, Tamwil-Salman ITB. Namun lembaga-lembaga tersebut umurnya tidak panjang karena sifatnya masih dalam proses percobaan.

Dan pada awal tahun 1991, Bank Muamalat menjadi perusahaan penggagas yang berbasis syariah pertama. Bertindak sebagai pioneer, mereka juga menjadi pembuka jalan bagi perusahaan-perusahaan lain untuk melakukan hal yang serupa. Perkembangan ekonomi syariah nasional dapat di lihat dari pertumbuhan aktivitas di sektor perbankan syariah, asuransi syariah, pasar modal syariah, lembaga keuangan mikro syariah dan pengelolaan zakat.

Mampu bertahan dari terpaan krisis moneter 1997-1998

Bank Muamalat pun mampu bertahan kala Indonesia diterpa krisis moneter di tahun 1997. Saat itu, banyak sekali berbagai bank konvensional mengalami kebangkrutan dan dilikuidasi. Hal ini jugalah yang membuat Bank Indonesia (BI) membentuk organisasi Biro Perbankan Syariah yang membina secara langsung perkembangan bank-bank syariah.

Hingga saat ini perkembangan ekonomi berbasis syariah di tanah air sungguh signifikan, yaitu mencapai 40 persen setiap tahunnya. Jauh lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi konvensional yang hanya mencapai 19 persen setiap tahunnya.

Perkembangan bank syariah kian pesat

Dilansir dari data Bank Indonesia, hingga akhir tahun 2012 terdapat 24 Bank Syariah dalam bentuk Unit Usaha Syariah (UUS), 11 Bank Umum Syariah (BUS), dan 156 BPRS dengan jaringan kantor sebanyak 2.574 lokasi atau tumbuh sebesar 25, 31%.

Sementara jika dilihat berdasarkan skala usaha dan sektor usaha debitur, mayoritas debitur Syariah adalah usaha skala mikro, kecil, dan menengah. Hingga Juni 2013 sebanyak 58.93% dari portofolio pembiayaan Syariah adalah pembiayaan untuk debitur UMKM dan sisanya adalah pembiayaan untuk debitur non-UMKM.

Kembali lagi ke awal dari diadakannya syariah, bahwa ini tidak lebih untuk mensejahterakan hidup seseorang. Agama Islam turut berperan besar dalam mendorong umatnya untuk menguasai perdagangan, hingga ,muncul sebuah istilah syariah. Karena itu, Islam memberikan penghormatan yang tinggi kepada para pedagang. 

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama