Duh, Indonesia Termasuk ke Dalam Negara dengan Populasi Tunawisma Tertinggi

Orang yang kehilangan rumah cenderung menjadi tunawisma. Mereka tidak lagi mempunyai tempat tinggal, sehingga tak sering disebut sebagai gelandangan. Mau tahu enggak sih negara mana saja yang memiliki tempat bernaung?

Menurut Komisi PBB untuk Hak Asasi Manusia, diperkirakan ada 100 juta di dunia telah kehilangan tempat tinggalnya. Kami mempunyai data statistik yang akan mengejutkan Anda untuk mempertimbangkan bahwa masih banyak orang-orang yang tidak seberuntung kita. Berikut ini adalah kota-kota di dunia dengan populasi tunawisma yang sangat tinggi. Berdasarkan Organisasi Tunawisma Internasional, terdapat sekitar 22,8 juta masyarakat yang tinggal di daerah kumuh. Dan menurut sebuah laporan dari pemerintah Filipina, sebanyak 1,2 juta anak-anak di Negeri bekas jajahan Spanyol itu berada di jalanan dengan menjajakan atau mengemis di jalan-jalan; 70.000 di antaranya berasal dari Metro Manila saja.

60 ribu masyarakat New York adalah gelandangan

Pada tahun 2013, jumlah gelandangan yang tidur setiap malam di tempat penampungan kota New York sudah lebih dari 60.000, yang membuat mencengangkan adalah 22.000 di antaranya adalah anak-anak. Krisis tunawisma di New York dibawa oleh kurangnya inisiatif bantuan perumahan murah yang disediakan oleh pemerintah daerah kepada individu dan keluarga yang tidak memiliki rumah. Kota Los Angeles saja memiliki salah satu konsentrasi terbesar dari tunawisma di Amerika Serikat. Saat ini, merumahkan sekitar 57.737 orang yang pernah kehilangan tempat tinggal.

Mari beralih ke Rusia, di Ibukotanya, Moskow ada sekitar 5 juta orang kehilangan tempat tinggal, dan dari jumlah itu, 1 juta adalah anak-anak. Studi menunjukkan bahwa Moskow memiliki pangsa terbesar dari tunawisma di negara itu, terhitung 10.000 - 50.000 (tergantung pada sumber informasi). Meskipun jumlah ini semakin meningkat dalam setiap tahunnya, tetap tidak ada pendekatan sosial untuk mengatasi masalah ini.

Banjir besar pernah melanda Meksiko

40% dari total penduduk Meksiko hidup dalam kemiskinan dan menurut Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) kota tersebut jumlah orang di jalan-jalan ibukota Meksiko kian bertambah menjadi antara 15.000 dan 30.000. Belum lagi Negara bagian Tabasco pernah terkena banjir pada tahun 2007 yang menyebabkan warganya menjadi tunawisma sebanyak 1 juta orang. Selain itu juga seratus ribu warga ibukota Tabasco, Villahermosa terisolasi dari luar akibat banjir. Negara Telenovela tersebut termasuk kedalam Negara berkembang dengan pendapatan perkapita $10.514.

23 juta manusia di India tak punya rumah

Berlanjut ke India. Pada tahun 2003, ada sekitar 23 juta orang kehilangan tempat tinggal di Negara Bollywoord tersebut. Sejak itu, jumlahnya sudah naik meskipun program yang dilaksanakan oleh pemerintah untuk mengurangi tingkat tunawisma tersebut. Di Mumbai saja, ada sekitar 25.000 orang yang tidur di jalanan setiap malam. Gelandangan di Negara Argentina sering disebut sebagai hantu jalanan di Buenos Aires. Pada hari ini, ada sekitar 15.000 orang kehilangan tempat tinggal yang berada di jalan-jalan kota kotor dan dengan perlindungan umum yang diberikan oleh walikota setempat dengan sekitar 1.700 tempat tidur untuk para tunawisma, ini adalah skenario yang tidak akan berubah dalam waktu dekat.

Jakarta termasuk 6 besar dengan gelandangan terbanyak

Menurut sensus tahun 2010, sekitar 28.364 orang kehilangan tempat tinggal di Jakarta, Indonesia. Namun, karena bencana alam baru-baru ini seperti banjir dan longsor populasi tunawisma telah tumbuh secara signifikan, sehingga memperbanyak jumlah mereka yang tidak mempunyai rumah. Akibat kejadian ini, Jakarta masuk ke dalam 25 urutan Negara dengan jumlah tunawisma terbanyak. Parahnya, pemerintah seakan tidak mau tahu dengan keadaan ini, mereka seakan lepas tanggung jawab dan membiarkan para gelandangan ini terus berkembang biak. Memang, itu tidak masuk kedalam APBD, makanya pemerintah lebih banyak berharap kepada Kemensos perihal dana bantuan.

Menjamurnya si manusia gerobak

Terlebih, memang sudah tak asing lagi apabila menjelang bulan puasa para manusia gerobak begitu berseliweran di kota-kota besar dengan tujuan tak lain untuk meminta belas kasihan para umat Muslim, yang sedang berlomba-lomba memberi sedekah terhadap yang membutuhkan. Sebutan manusia gerobak itu sendiri menjadi populer taktala, mereka menjadikan alat penarik barang tersebut menjadi tempat tinggal mereka sehari-hari berkeliling kota. Permasalah ini seakan tidak ada habisnya. Bahkan, mereka sudah tahu betul saat yang tepat untuk mendapatkan uang. Jelang Lebaran dari tahun ke tahun permasalahan manusia gerobak seakan tidak ada habisnya. Bahkan, mereka tahu betul momentum yang tepat untuk warga kota bersedekah dengan sekalian membawa serta keluarganya hanya untuk membuat orang lain bersimpati. 

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama