Cara Menghitung Pajak Progresif Kendaraan dan Denda PKB

Nilai kendaraan mempengaruhi besarnya pajak. Bagaimana jika punya dua kendaraan atau lebih? Simak cara menghitung nilai pajak kendaraan dan denda yang mengintai.

Pajak kendaraan bermotor termasuk dalam jenis pajak progresif. Dalam artian, pajak progresif adalah pajak yang sistem pemungutannya dengan cara menaikkan persentase kena pajak yang harus dibayar sesuai dengan kenaikan objek pajak. 

Di Indonesia, pajak penghasilan dan pajak kendaraan termasuk dalam jenis pajak progresif. Adapun Pajak Kendaraan Bermotor termasuk ke dalam jenis pajak provinsi yang merupakan bagian dari Pajak Daerah.

Pajak Kendaraan Bermotor Progresif dengan Pajak Kendaraan Bermotor

Pajak Kendaraan Bermotor Progresif dikenakan apabila pemilik kendaraan memiliki kendaraan lebih dari satu. Sedangkan Pajak Kendaraan Bermotor dikenakan kepada setiap pemilik kendaraan yang jumlah besarnya nilai pajak dihitung dari beberapa faktor. 

Jika seseorang sudah memiliki satu kendaraan, entah itu motor atau mobil, tentu sudah diwajibkan membayar pajak kendaraan bermotor (PKB)

Rumus Perhitungan Pajak Progresif Kendaraan

Sebelum kita menghitung nilai pajak progresif kendaraan, perlu diketahui bahwa Pajak progresif diterapkan bagi kendaraan pribadi baik roda dua dan roda empat dengan nama pemilik dan alamat tempat tinggal yang sama. Jika nama pemilik dan alamatnya berbeda, maka tidak dikenakan pajak progresif. Pajak progresif ini tidak berlaku untuk kendaraan dinas pemerintahan dan kendaraan angkutan umum.

Baca juga: Serba-Serbi Perhitungan Pajak STNK

Ilustrasi

Pak Agung memiliki 3 mobil. Ketiga mobil tersebut memiliki tipe yang sama dan tahun yang sama.

Sebelum menghitung besarnya pajak progresif, 3 hal ini harus ada pada perhitungan pajak progresif kendaraan. Yaitu adalah Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ), dan Nilai Jual Kendaraan Bermotor (NJKB).

Untuk nilai PKB, sudah tertera pada STNK pemilik kendaraan. Sedangkan untuk menghitung NJKB rumusnya adalah (PKB/2) x 100.

Diketahui bahwa:
PKB : 2.850.000

SWDKLLJ : 150.000

NJKB: (PKB/2) x 100
(2.850.000/2) x 100
= 142.500.000

Nilai NJKB mobil Pak Agung sudah diketahui sebesar Rp 142.500.000.

Berapa besarnya pajak progresif dari tiga mobil tersebut?

Mobil I

PKB : 142.500.000 x 1,5 %= 2.137.500

Nilai SWDKLLJ=150.000

Total= 2.287.500

Mobil II

PKB : 142.500.000 x 2% = 2.850.000

Nilai SWDKLLJ =150.000

Total = 3.000.000

Mobil III

PKB : 142.500.000 x 2.5% = 3.562.500

Nilai SWDKLLS = 150.000

Total = 3.712.500

Dari perhitungan tersebut, terlihat terjadi kenaikan besarnya nilai pajak kendaraan progresif yang wajib dibayar Pak Agung dari tiga mobil yang dia miliki.

Perlu diketahui, Pasal 7 ayat (1) Perda DKI No. 8 Tahun 2010 telah menetapkan ketentuan sebagai berikut:

  • Sebesar 1,5% (satu koma lima persen), untuk kepemilikan kendaraan bermotor pertama
  • Sebesar 2% (dua persen), untuk kepemilikan kendaraan bermotor kedua
  • Sebesar 2,5% (dua setengah persen), untuk kepemilikan kendaraan bermotor ketiga dan
  • Sebesar 4% (empat persen), untuk kepemilikan kendaraan bermotor keempat dan seterusnya

Rumus Menghitung Denda Pajak Kendaraan Bermotor (PKB)

Telah tercantum dalam Pasal 4 UU No.28 Tahun 2009 mengatur bahwa subjek Pajak Kendaraan Bermotor adalah orang pribadi atau badan yang memiliki dan/atau menguasai kendaraan bermotor.

Apabila pemilik kendaraan telat membayar pajak kendaraan bermotor (PKB) , tentu saja denda berlaku. Sehingga besarnya nilai pajak akan lebih besar dari seharusnya.

Ada baiknya Anda mengetahui besarnya denda pajak kendaraan bermotor (PKB), sebelum pengeluaran Anda bertambah karena lupa membayar pajak kendaraan.

Denda kendaraan bermotor akan berlaku apabila apabila jatuh tempo masa berlaku STNK belum melakukan perpanjangan maka akan dikenai denda PKB dan denda SWDKLLJ.

Perhitungan Denda PKB: 25% per tahun
Terlambat 3 bulan = PKB x 25% x 3/12
Terlambat 6 bulan = PKB x 25% x 6/12
Denda SWDKLLJ : besarnya Rp 32.000 untuk roda 2 dan Rp 100.000 untuk roda 4.

Ilustrasi

Adi memiliki sepeda motor tahun 2014, dan telat bayar pajak 6 bulan.

PKB tertera pada STNK Adi: Rp 170.000

Denda SWDKLLJ: Rp 32.000

Maka perhitungan dendanya seperti ini,

(PKB) x 25% x 6/12 ) + Denda SWDKLLJ

Rp 170.000 x 25% x 6/12 + Rp 32.000 = Rp 53.250

Berapa total yang harus dibayar Adi?

Rumus : PKB + SWDKLLJ + Denda

PKB: Rp 170.000

SWDKLLJ: Rp 35.000

Denda: Rp 53.250

Total: Rp 258.250

Apakah semua besarnya tarif pajak kendaraan itu sama? 

Pasal 6 ayat (1) UU No. 28 Tahun 2009 mengatur bahwa penetapan batas bawah dan batas atas tarif Pajak Kendaraan Bermotor pribadi. Dengan demikian, kepastian penetapan tarif tersebut diatur berdasarkan peraturan daerah pada masing-masing provinsi.

Baca Juga: Alasan Pentingnya NPWP dalam Pengajuan Kredit

5 Hal yang Harus di Waspadai Ketika Mengadaikan BPKB

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Berikan pendapat anda!

  • David

    Untuk perhitungan pajak progresif kendaraan jelas untuk kendaraan pertama, kedua, ketiga dst. Kalau mobil pertama dijual, apa pajak mobil kedua dst akan turun atau tetap? Jika membeli mobil baru, apakah dianggap mobil pertama atau mobil keempat?

    Reply