3 Alasan Mengapa Orang Tidak Punya Rekening Bank

Memiliki rekening bank adalah salah satu hal penting saat ini. Namun nyatanya, masih banyak orang yang belum memilikinya. Lantas, apa saja faktor penyebabnya?

Meski produk jasa keuangan seperti produk perbankan sudah dinikmati oleh masyarakat Indonesia, namun kenyataannya masih banyak masyarakat yang belum banyak mengenal, apalagi menggunakannya.

Pejabat Eksekutif Finance & Strategy PT Bank Mandiri Tbk Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, total pemilik rekening di Indonesia hanya sekitar 60 juta orang dari total populasi penduduk di Indonesia yang berkisar 250 juta jiwa.

Padahal dengan memiliki rekening tabungan, masyarakat akan mendapat keuntungan seperti pengelolaan keuangan yang lebih terarah. Misalnya, ketika Anda rajin menabung 20 persen dari penghasilan setiap bulan, Anda akan lebih mudah mengontrolnya.

Setiap transaksi keluar masuk tercatat dalam buku tabungan. Anda bisa dengan mudah mengetahui uang yang keluar digunakan untuk apa saja. Begitu juga dengan jumlah uang yang masuk. Melalui buku tabungan semua transaksi akan tercatat.

Memang, ada biaya-biaya yang dibebankan bank kepada nasabah untuk memiliki rekening bank. Namun dibalik itu semua, nasabah diberikan berbagai kemudahan dalam transaksi keuangan seperti transfer uang, membayar listrik, membeli pulsa, dan lain sebagainya.

Cara mengakses transaksi keuangan pun menjadi lebih mudah. Nasabah tidak perlu lagi antri di kantor bank. Mereka bisa memanfaatkan mesin ATM, mobile banking, mesin electronic data capture (EDC), dan internet banking untuk melakukan transaksi.

Mengapa Kepemilikan Rekening di Indonesia Masih Rendah?

Berdasarkan data dari Bank Indonesia, ada 3 faktor penyebab rendahnya kepemilikan rekening di Indonesia. Berikut adalah alasannya.

1. Tidak Memiliki Uang untuk Saldo Minimal

Saat membuka rekening bank, umumnya calon nasabah akan diberikan formulir pembukaan rekening. Setelah mengisi formulir, selanjutnya calon nasabah harus melakukan penyetoran uang pertama yang cukup besar.

Setiap bank memiliki syarat dan ketentuan masing-masing, begitu juga dengan besaran biaya administrasi pada masing-masing bank. Mungkin, kalau saldo minimal Rp 10.000-Rp 20.000 masih bisa diterima. Namun, kalau sudah diatas Rp 50.000 akan terasa memberatkan.

2. Terlalu Mahal dan Tidak Mau Membayar Biaya Tambahan

Besarnya biaya administrasi rekening dan pembuatan kartu ATM, membuat masyarakat enggan memiliki rekening di bank.

Beberapa bank juga mensyaratkan saldo minimal yang harus ditahan. Kalaupun bank membebaskan biaya administrasi rekening, biasanya nasabah harus memiliki saldo minimal tertentu.

Biaya-biaya yang dibebankan tersebut cenderung lebih besar daripada bunga yang didapatkan.

3. Lokasi Tidak Terjangkau

Daerah-daerah perkotaan terutama di Pulau Jawa, kantor cabang bank dan ATM memang relatif mudah ditemukan. Namun, bagaimana dengan masyarakat di daerah-daerah terpencil? Di luar Pulau Jawa, jumlah kantor cabang relatif lebih sedikit.

Jumlah kantor cabang di Indonesia Barat dan Indonesia Timur jauh berbeda. Salah satu kendalanya adalah infrastuktur di Indonesia.

Solusi dari Otoritas Jasa Keuangan

Berkaca pada kondisi tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meluncurkan program Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif (Laku Pandai).

Program ini hadir dengan sistem agen sebagai kepanjangan tangan bank guna menjangkau masyarakat di desa dan daerah terpencil. Laku Pandai bertujuan agar masyarakat memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang produk dan layanan jasa keuangan.

Beberapa kelebihan produk Laku Pandai antara lain tanpa batasan minimum setoran, tidak ada biaya bulanan, tidak ada biaya administrasi, dan tidak dikenakan biaya setiap setor tunai.

Misalnya, seorang nasabah hanya memiliki uang Rp 1.000, maka ia tetap dapat menabung dengan menyetorkannya melalui agen Laku Pandai.

Baca juga: 10 Hal Cerdas dengan Perbankan

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama