10 Kerugian Trading Terbesar Dalam Sejarah

Trading dalam investasi selalu dilakukan dengan harapan bisa mendapat untung. Namun bagaimana kalau hasilnya malah mencatat kerugian, bahkan terbesar dalam sejarah seperti yang terjadi di perusahaan-perusahaan berikut.

Potensi keuntungan yang ditawarkan oleh berbagai produk investasi sering membuat banyak pihak tertarik untuk mengikutinya. Namun, ada satu hal yang sering tidak dipedulikan, yaitu adanya risiko. Ya, sehebat apapun Anda dalam melakukan trading, tak menjamin bisa mendapat keuntungan. Seperti yang terjadi pada perusahaan-perusahaan ini, bukannya mendapat laba, justru kerugian dalam jumlah besar yang mereka dapat.

Ya, karena berbagai kesalahan, sebuah perusahaan bisa langsung berubah nasib hingga kehilangan uang miliaran dolar AS atau puluhan triliun rupiah. Kalau sudah begitu, siapa yang mau mengganti rugi? Sebab modal sudah habis menguap begitu saja.

Time mencatat, ada begitu banyak perusahaan yang mengalami bencana akibat kesalahan trading. Termasuk 10 diantaranya yang mencatat kerugian terbesar dalam sejarah. Siapa saja mereka? Ini dia.

1. Metallgesellschaft

Perusahaan logam raksasa asal Jerman, Metallgesellschaft tercatat pernah mengalami kerugian besar hingga USD 1,3 miliar atau RP 14,95 triliun (asumsi 1 USD = Rp 11.500) pada tahun 1993 silam. Penyebabnya adalah karena mereka terlalu berspekulasi dengan melakukan trading minyak bumi. Diprediksi harganya akan naik, yang terjadi malah anjlok parah.

Akibatnya, para pemegang saham dipaksa untuk menyelamatkan Metallgesellschaft dari kebangkrutan dengan mengumpulkan dana sampai USD 2 miliar atau Rp 23 triliun. Selain itu, CEO perusahaan saat itu, Heinz C. Schimmelbusch dipecat dan dituduh melanggar kewajiban akibat kerugian.

2. Orange County

Pada tahun 1994, salah satu wilayah di California, Amerika serikat ini pernah mengalami kebangkrutan akibat kesalahan pengelolaan dana yang dilakukan oleh bendahara daerah, Robert Citron. Saat itu, ia meminjam dana publik (APBD) senilai USD 1,4 miliar atau Rp 16,1 triliun untuk melakukan pembelian obligasi. Masih belum cukup, ia juga berjanji akan melakukan pengembalian berbunga tinggi.

Lalu, apa yang diharapkannya tidak pernah terjadi karena suku bunga AS meningkat tinggi. Akibatnya, terjadi kepanikan kalau harga obligasi akan jatuh, sehingga terjadi penjualan besar-besaran di Orange County.

3. UBS

Bank terbesar di Swiss ini menyatakan telah merugi setidaknya USD 2 miliar atau Rp 23 triliun lebih pada bulan September 2011 lalu. Perusahaan menyebutkan, hal ini bisa terjadi karena diduga ada perdagangan derivatif tidak sah yang dilakukan oleh salah satu trader yang berada di London bernama Kweku Adoboli. Di samping itu, mereka juga mengakui telah mengabaikan peringatan dari sistem computer yang memberi peringatan atas transaksi ilegal pria 31 tahun tersebut.

Akibat kejadian ini, CEO UBS, Oswald Bruebel beserta beberapa petinggi perusahaan lain langsung mengundurkan diri. Sementara Adoboli didakwa atas tuduhan pembohongan dan pelaporan palsu, meski ia mengaku tidak bersalah.

4. JP Morgan Chase

2 tahun lalu, salah satu bank terbesar di Amerika Serikat, JPMorgan Chase & Co mengatakan telah mengalami kerugian sebesar USD 2 miliar atau lebih dari Rp 23 triliun dalam perdagangan. Hal ini diakibatkan gagalnya strategi lindung nilai investasi sehingga memicu jatuhnya saham keuangan dan mencoreng reputasi bank.

Untuk informasi, saat itu JPMorgan merupakan salah satu bank paling terpercaya untuk dijadikan manajer risiko investasi karena tidak pernah mengalami kerugian selama krisis keuangan dan tetap kuat untuk mengakuisisi Bear Stearns dan Washington Mutual di periode tahun 2008.

Pasca kerugian ini, CEO perusahaan, Jamie Dimon langsung mengundurkan diri. “Saya telah melakukan kesalahan besar karena mengabaikan kekhawatiran atas perdagangan di bank” katanya.

5. Aracruz

Jatuhnya nilai mata uang Brazil telah menyebabkan perusahaan pengolah eucalyptus terbesar di dunia asal negara tersebut merugi hingga USD 2,5 miliar atau Rp 28,75 triliun di tahun 2008. Hal ini terjadi karena sejak 2004 terjadi lonjakan besar mata uang Real (BRL) yang mampu mengalahkan dolar AS. Hal ini yang membuat Aracrus pede untuk mempertaruhkan uangnya dalam jumlah besar demi mendapat untung dari perdagangan valuta asing.

Namun, terjadilah krisis global di tahun 2008 yang membuat Real Brazil jatuh hingga 24% terhadap dolar AS. Hal ini langsung membuat Aracruz rugi besar. Efek terbesarnya, saham perusahaan anjlok ke level terendah dalam 14 tahun terakhir dan memaksa 6 anggota direksinya mundur karena merasa malu.

6. Sumitomo Corporation

"Sepandai-pandainya tupai melompat, tetap akan jatuh juga." Mungkin pepatah ini yang pantas diberikan pada kepala divisi perdagangan logam Sumitomo, Yasuo Hamanaka. Selama 10 tahun ia melakukan cornering atau manipulasi harga tembaga dunia tanpa ketahuan. Akibat kelakuannya, pria yang dijuluki Mr. Copper tersebut telah membuat perusahaan itu mampu menguasai 5 persen pasar tembaga global.

Sampai akhirnya aksi Yasuo berujung pada kerugian bagi Sumitomo sebesar USD 2,6 miliar atau Rp 29,9 triliun di tahun`1995. Di samping itu, ia akhirnya juga mengakui kesalahannya dan dijatuhi hukuman 8 tahun penjara.

7. Long Term Capital Management

Sebenarnya Long Term Capital Management merupakan salah satu perusahaan hedge fund terbesar di dunia. Namun, apa yang terjadi pada mereka kemudian dianggap sebagai salah satu kejadian paling tidak bisa dipahami oleh industri keuangan. Bagaimana tidak, LTCM mengalami kerugian sampai USD 4,6 miliar atau Rp 52,9 triliun cuma dalam waktu 4 bulan di tahun 1998, setelah gagal menjalankan bisnis di Rusia yang ketika itu sedang mengalami krisis.

Padahal LTCM dipegang oleh 2 orang CEO kawakan peraih Hadiah Nobel bidang Ekonomi tahun 1997 yaitu Myron Scholes dan Robert C. Merton. Menurut banyak pihak, hancurnya perusahaan ini disebabkan kegagalan manajemen resiko akibat terlenanya sang pemilik dan timnya terhadap keberhasilan, yang kemudian membuat mereka lengah dan melakukan pengambilan keputusan yang tanpa memperhitungkan potensi kerugian.

8. Amarath Advisors

Perusahaan ini didirikan oleh Nicholas Maounis pada tahun 2000 silam. New York Times mencatat, Amarath bekerja dengan menggunakan pedekatan multi strategi yang memungkinkan manajer portofolio bisa menangkap perluang di pasar menjanjikan apapun.

Karena dibantu bagusnya sektor energi, Amarath sempat menghasilkan laba senilai USD 1 miliar atau RP 11,5 triliun di tahun 2005 dan mampu mengelola aset senilai USD 9 miliar (Rp 103,5 triliun) di periode yang sama. Perusahaan akhirnya kolaps di tahun 2006 setelah merugi lebih dari USD 6 miliar atau Rp 69 triliun akibat jatuhnya harga gas alam berjangka.

9. Societe Generale

Malapetaka, mungkin ini adalah kejadian yang pantas disebut pada salah satu bank besar di Prancis ini. Bagaimana tidak, SocGen mengalami kerugian hingga USD 7,2 miliar atau Rp 82,8 triliun akibat jatuhnya laba bisnis perusahaan yang ditambah dengan kasus pembohongan besar-besaran yang dilakukan salah satu pialangnya bernama Jerome Kerviel. Ia berhasil menyembunyikan kesalahannya dalam serangkaian transaksi palsu yang rumit untuk diselidiki.

Apa yang dilakukan Kerviel ini membuat para direktur SocGen terpana. “Dalam bekerja, dia padahal cuma berspekulasi. Ia juga hanya seorang pialang berusia 30 tahun yang berstatus kecil-kecilan dengan gaji sekitar EUR 5000.Tapi lihatlah, dia mampu melenyapkan uang senilai USD 4,9 milliar tanpa diketahui seorang pun,” Kata Direktur Societe, Daniel Bouton.

10. Morgan Stanley

Pernah mendengar nama Howard Hubler? Di negara asalnya, Amerika Serikat, ia juga bukan orang terkenal. Namun pada krisis ekonomi AS pada tahun 2008, namanya menjadi perbincangan karena dianggap membuat salah satu perusahaan keuangan terbesar, Morgan Stanley merugi sampai USD 9 miliar atau Rp 103,5 triliun! Dari laporan yang ada, hal ini disebabkan karena ia telah mempertaruhkan uang yang sangat besar pada akhir tahun 2006 untuk diinvestasikan di sektor properti AS dengan keyakinan harga rumah di sana akan naik pada 2007.

Namun, perkiraannya ternyata salah besar, harga rumah di Amerika Serikat justru anjlok. “Hampir semua kerugian di kuartal IV tahun ini (2007) berasal satu meja (milik Hubler) dari bisnis KPR kami,” kata John Mack, CEO Morgan Stanley.

Apa yang terjadi pada perusahaan-perusahaan ini seharusnya bisa menjadi pelajaran kalau kita harus memiliki manajemen risiko dalam menjalankan sebuah investasi. Hal ini diperlukan agar Anda lebih sudah siap akan segala kemungkinan yang bisa membuat kita merugi.

Ingat, high risk high gain, no risk no gain. Semakin besar risiko trading, maka potensi keuntungan yang didapat juga lebih tinggi, dan sebaliknya. Karena itu, hati-hati dalam berinvestasi ya!

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama