Wah, Asyiknya Menggunakan Uang Elektronik.

Uang elektronik atau biasa disebut e-money semakin marak digunakan. Kelebihan utama dari uang elektronik adalah bisa mentransfer uang tanpa harus ke Anjungan Tunai Mandiri (ATM).

Ya, benar. Tulisan kali ini akan membahas tentang uang elektronik atau biasa disebut “e-money”. Untuk Anda yang sering menggunakan bus TransJakarta, pernah tidak menggunakan suatu kartu yang dapat diisi ulang dengan nominal tertentu, untuk berangkat dari satu halte ke halte lain? Bagi Anda yang sering menggunakan transportasi kereta Commuter, pasti sering menggunakan kartu Commuter kan?

Kenapa Harus Uang Elektronik?

Nah, kartu itu bisa dikatakan bagian dari uang elektronik (e-money). Kenapa? Itu karena kita mengisi ulang ‘dompet’ berupa kartu itu dengan beberapa nominal rupiah, untuk selanjutnya bisa kita gunakan sebagai alat pembayaran jika kita sering menggunakan moda transportasi tersebut. Dalam kasus ini, e-money berupa kartu tersebut tidak berkurang nilai nominal di dalamnya. Itu selayaknya kartu debit, dengan pembatasan nominal yang bisa disesuaikan/diatur. Mereka yang sering bepergian dengan kereta, uang elektronik bisa dipakai untuk pembayaran tiket. Kartunya disebut Kartu Multitrip. Untuk bisa mendapatkan layanan uang elektronik berupa kartu ini, kita bisa mengaktifkan aku uang elektronik itu. Tiga layanan seluler terbesar di Indonesia sudah bekerja sama untuk menciptakan layanan uang elektronik ini, yaitu XL Tunai, Indosat Dompetku, atau Telkom T-Money. Asyik kan?

Itu baru di kereta. Kalau di bus TransJakarta, diperkirakan bulan Mei sistem uang elektronik akan diterapkan pada bulan Mei. Nama lainnya adalah tiket elektronik (e-ticketing). Seperti yang diberitakan di laman Kompas, tiket elektronik yang digunakan dalam pembayaran ongkos bus TransJakarta mengadopsi sistem uang elektronik (e-money) yang dikembangkan perbankan. Jadi, tiket elektronik tersebut pada prinsipnya adalah pemotongan saldo dana yang tersimpan dalam kartu.

Berdasarkan data dari Bank Indonesia, seperti yang dikutip Kompas, secara rata-rata harian penggunaan uang elektronik di Indonesia saat ini mencapai Rp 8,7 miliar, dengan volume transaksi mencapai sekitar 420.000 per hari.

Untuk itulah, Bank Indonesia mengumumkan peraturan baru, yaitu Peraturan Bank Indonesia Nomor 16/PBI/2014. Peraturan ini perubahan yang dikeluarkan menyangkut regulasi pada Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/12/PBI/2009 tentang Uang Elektronik (Electronic Money/e-money). Seperti yang dikutip Yahoo, perubahan ini ditujukan untuk penyempurnaan regulasi uang elektronik (e-money) dan mendorong penggunaan uang elektronik ini menjadi lebih luas, untuk menggantikan penggunaan uang tunai.

Tanpa Perlu ke ATM? Serius?

Di dalam peraturan yang baru itu, perubahan regulasi ini dilakukan untuk menyelaraskan ketentuan Uang Elektronik yang penggunaannya terkait transfer dana, peningkatan keamanan teknologi, dan efisiensi penyelenggaraan Uang Eletronik, serta memperluas jangkauan layanan penggunaan Uang Elektronik tersebut. Itu semua dilakukan untuk mendukung Strategi Nasional Keuangan Inklusif melalui penyelenggaraan Layanan Keuangan Digital (LKD).

Rosmaya Hadi, Direktur Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, berharap penggunaan uang elektronik tersebut di Indonesia dapat mencontoh negara Kanada yang seluruh masyarakatnya sudah hampir menggunakan uang elektronik. Lebih lanjut, menurut Rosmaya, fungsi lain dari penggunaan uang elektronik adalah penggunaan ponsel untuk mengirim uang tanpa perlu ke mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Asyik enggak tuh, berkirim uang dengan ponsel tanpa perlu ke ATM?

Apa Itu Uang Elektronik?

Oke, sekarang ada yang bertanya, sebenarnya apa sih definisi Uang Elektronik itu? 

Menurut Bank Indonesia, dalam laman resminya, Uang Elektronik adalah alat pembayaran yang diterbitkan atas dasar nilai uang yang disetor terlebih dahulu kepada penerbit. Uang elektronik digunakan sebagai alat pembayaran kepada pedagang yang bukan merupakan penerbit uang elektronik tersebut. Nilai uang disimpan secara elektronik dalam suatu media server atau cip, serta dapat dipindahkan untuk kepentingan transaksi pembayaran dan/atau transfer dana. Nilai uang ini bukanlah merupakan simpanan sebagaimana dimaksud dalam undang-undang yang mengatur mengenai perbankan, sehingga tidak diberikan bunga dan tidak dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Uang elektronik lebih merupakan pengalihan bentuk dari uang tunai.

Untuk diketahui, ada 2 (dua) jenis perbedaan uang elektronik.

1. Uang Elektronik yang data identitas Pemegangnya terdaftar dan tercatat pada Penerbit (registered). Untuk kategori ini fasilitasnya adalah;

- Pengisian ulang (top up)

- Pembayaran transaksi

- Pembayaran tagihan

- Fasilitas lain berdasarkan persetujuan Bank Indonesia

2. Uang Elektronik yang data identitas Pemegangnya tidak terdaftar dan tidak tercatat pada Penerbit (unregistered). Untuk kategori ini fasilitasnya berbeda dengan yang pertama.

- Registrasi pemegang

- Transfer dana

- Tarik tunai

- Penyaluran proram bantuan pemerintah kepada masyarakat

Untuk diketahui, kedua jenis ini memiliki kelebihan dan risikonya masing-masing. Meski fungsinya sama, e-money registered memiliki keamanan lebih dari yang unregistered. Untuk hal itulah, Bank Indonesia menyarankan masyarakat memilih e-money registered. Artinya, e-money registered itu memiiliki identitas pemegang dan tercatat resmi pada penerbit uang elektronik. Sebaliknya, e-money unregistered bisa diperlakukan layaknya uang biasa. Maka, jika hilang pemilik tidak akan rugi-rugi amat. Dalam hal nominal, nilai e-money registered yang bisa disimpan paling banyak Rp 5 juta, sedangkan nilai e-money unregistered di bawah nominal tersebut.

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Berikan pendapat anda!

  • Ranny

    Jadi, e-money itu berbeda dengan kartu kredit ya?

    Reply