Mengenal Lebih Dekat Deposito Syariah

Berbeda dengan deposito konvensional, deposito syariah memiliki tata cara pengelolaan uang berdasarkan akad syariah atau nilai-nilai Islam. Lantas, bagaimanakah perhitungannya?

Deposito syariah merupakan produk simpanan berjangka yang dikelola berdasarkan prinsip Islam atau syariah. Maksud di sini ialah dikelola menggunakan prinsip mudharabah yang ditujukan untuk nasabah perorangan maupun perusahaan.

Tidak seperti deposito konvensional (non syariah), deposito syariah tidak menerapkan sistem bunga. Anda akan mendapatkan nisbah atau porsi bagi hasil yang diatur berdasarkan akad mudharabah.

Nisbah di sini merupakan persentase dari dana deposito yang akan dihitung sebagai keuntungan.

Deposito menerapkan prinsip "keuntungan muncul bersama risiko". Dalam praktiknya, bank syariah mendapat laba dari bagi hasil debitur, lalu laba tersebut dibagi lagi oleh bank kepada nasabah.

Bila laba debitur naik, maka laba bank naik, dan imbal hasil deposito syariah nasabah pun naik. Namun, bila laba bank turun, maka imbal hasil yang diterima nasabah pun berkurang.

Keuntungan Menggunakan Deposito Syariah

Keuntungannya ialah nasabah akan merasa aman dan nyaman karena telah dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dengan beberapa persyaratan tertentu.

Kemudian, juga telah diatur berdasarkan kebijakan Dewan Pengawas Syariah (DPS), bahwa pada lembaga keuangan syariah, kedua pihak antara nasabah dan perbankan wajib membagi hasil secara proporsional atau adil.

Menurut sistem syariah, sangat mengharamkan riba tetapi sangat mendukung adanya nisbah atau porsi bagi hasil. Meskipun tujuan dari kedua hal tersebut sama, yaitu untuk memberi keuntungan pemilik dana, tetapi pada dasarnya sangat berbeda jauh.

Berikut adalah berbagai keuntungan lainnya:

  • dana yang ditempatkan dijamin aman;
  • jangka waktu penempatan deposito sangat beragam, mulai dari 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 12 bulan, atau bahkan sampai 24 bulan;
  • menerapkan sistem bagi hasil berdasarkan nilai-nilai atau ajaran Islam;
  • bisa menjadi jaminan pembiayaan;
  • nisbah bisa diinvestasikan kembali atau diterima tunai;
  • persentase bagi hasil yang bersaing.

Perhitungan Porsi Bagi Hasil Deposito Syariah

Nisbah atau porsi bagi hasil ditentukan saat akad, yaitu ketika Anda membuka deposito syariah. Anda bisa menanyakan kepada petugas bank syariah, berapa nisbah bagi hasil deposito saat itu.

Nisbah sering disebutkan dalam bentuk persentase, tetapi perhitungannya berbeda dengan persentase bunga deposito biasa.

Misalnya di Bank Syariah XYZ, nisbah bagi hasil deposito berjangka waktu 3 bulan adalah 60%. Maka itu, bukan berarti nasabah akan mendapat return sebesar 60% dari depositonya.

Nisbah bagi hasil 60% artinya, jika laba bank diumpamakan 100%, maka 60% dari laba itu menjadi hak nasabah, sedangkan 40%-nya menjadi hak bank sebagai pengelola dana.

Sebenarnya, perhitungan untuk bagi hasil deposito mudharabah di bank syariah cukup kompleks. Sebab, pendapatan dan laba bank sendiri berubah-ubah, dan nasabah deposan jumlahnya sangat banyak.

Oleh karena itu, sering digunakan perhitungan berdasar indeks nilai keuntungan bank seperti HI-1000. HI-1000 mengacu pada nilai keuntungan bank per Rp 1.000 dana terhimpun yang diinvestasikan.

Misalnya, HI-1000 di Bank Syariah XYZ bulan Desember 2014 adalah sebesar 10, maka itu berarti per Rp 1.000 investasi, Bank Syariah XYZ mendapat untung 10 rupiah. HI-1000 tersebut kemudian digunakan untuk menghitung bagi hasil yang akan dibagikan pada nasabah pemegang deposito.

Berikut adalah contohnya:

Hasanah menyimpan dana sebesar Rp 20 juta dalam deposito syariah bertenor 1 bulan di Bank Syariah XYZ. Ia menabung pada awal Desember dengan perjanjian nisbah 60%:40%. Maka perhitungan bagi hasilnya:

(Besar Deposito Pokok : 1.000) x HI-1000 x nisbah

(Rp 20.000.000 : 1.000) x 10 x 60% = Rp 120.000

Setelah dikurangi pajak deposito 20%, maka nominal bagi hasil yang akan diterima Hasanah bulan Desember itu adalah Rp 96.000.

Indeks nilai keuntungan bank syariah tersebut bisa berubah-ubah setiap bulannya, tergantung pada kondisi ekonomi dan kinerja investasi yang dibina bank syariah terkait.

Oleh karena itu, bank syariah tidak bisa menjamin berapa besar nominal bagi hasil yang akan diterima nasabah, walaupun nisbah bagi hasilnya tetap. Berbeda dengan perhitungan bunga deposito bank umum biasa, dimana nasabah bisa menghitung besaran bunga yang didapatnya.

Syarat Pendaftaran Deposito Syariah

Tidak jauh berbeda dengan deposito konvensional, berikut adalah syarat umum untuk ajukan deposito syariah.

  • Melakukan pengisian formulir pembukaan rekening deposito.
  • Membawa identitas asli seperti, KTP, SIM, atau paspor untuk deposito perorangan.
  • Untuk deposito perusahaan, membawa fotokopi identitas atau legalitas badan usaha.
  • Menyetorkan deposito awal.

Konsep "keuntungan muncul bersama risiko", bagi hasil, dan ‘kehalalan’ investasi adalah 3 faktor utama perbedaan antara deposito syariah dan deposito berjangka biasa. Manakah yang menjadi pilihan Anda untuk mendepositokan uang?

Baca juga: Tetap Eksis dengan Kartu Kredit Syariah

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama