Single Boleh Saja, Tapi Bijaksanalah

Atas nama karier dan berbagai alasan, banyak orang memutuskan untuk single. Tapi, tak banyak yang bijaksana mem-back up diri dengan jaminan asuransi.

Ada banyak alasan mengapa seseorang, baik laki-laki atau pun perempuan, memutuskan untuk tetap sorangan alias single. Belum juga menemukan jodoh tepat sesuai keinginan, tak ingin karier terganggu oleh bentuk hubungan mengikat yang bikin ribet, atau tak ingin meneruskan ikatan hubungan yang tidak memberikan rasa nyaman dan masih banyak alasan lainnya.

Yang pasti, menjadi single adalah pilihan. Bahkan, pilihan untuk sorangan itu secara terbuka dan, terkadang, dengan nada bangga diungkapkan. Jadi jangan heran jika mendengar lontaran kalimat “jomblo itu nasib dan single itu pilihan”. Padahal, apa bedanya?

Belum Bertemu Jodoh

Jodoh, maut, dan rezeki adalah misteri. Setiap makhluk ditakdirkan untuk hidup berpasang-pasangan. Namun, takdir sering tak berpihak kepada orang-orang tertentu. Atau, dengan sadar seseorang memutuskan untuk tidak menerima jodohnya dengan berbagai alasan.

Tak sesuai kriteria, tak cocok, tak sealiran, tak sepaham, atau seribu tidak lainnya yang menjadi alasan seseorang lebih memilih sendiri. Singkat kata, sulit untuk menemukan pasangan yang benar-benar sesuai selera dan kriteria. Akhirnya, sendiri dirasa lebih baik daripada memaksakan diri.

Masih Ingin Bebas

Bentuk hubungan apa pun pasti diiringi ‘perang’ kepentingan yang berujung terciptanya kesepakatan-kesepakatan yang harus ditaati kedua belah pihak. Terkadang sulit untuk berkompromi dan menjembatani berbagai kepentingan dalam kesepakatan tersebut.

Hasilnya, tak sedikit orang mundur sebelum terjebak lebih dalam atau terkekang lebih kencang dalam kesepakatan-kesepakatan yang membuatnya tak nyaman. Sendiri dirasa lebih baik daripada berada dalam sebuah hubungan yang membuatnya sulit mengembangkan diri. Atau, hubungan yang membuatnya tak merdeka untuk mengekspresikan diri.

Karier Lebih Penting

Bagi mereka yang menomorsatukan karier, bagaimana pun bentuk sebuah ikatan hubungan akan tetap menjadi sinyal mara bahaya. Apalagi, bagi mereka yang menyimpan ambisi besar untuk mengejar karier setinggi bintang di langit.

Sebuah hubungan, apalagi percintaan, menuntut tak hanya perhatian lebih namun juga pengorbanan. Padahal, masih banyak urusan yang harus dikejar atas nama karier. Belum lagi impian untuk menggapai sukses atau pun menuntaskan ambisi. Jadilah, masih butuh waktu untuk memupus kesendirian. Bagi kelompok ini percintaan dianggap masalah picisan yang hanya menjadi batu sandungan menggapai mimpi.

Trauma Pernikahan

Tak sedikit orang memutuskan untuk single karena trauma pernikahan. Baik pernikahan sendiri atau pun pernikahan orang-orang terdekat. Dengan menjadi sendiri mereka berpikir bisa menjauh dari peluang-peluang konflik dan kompromi-kompromi yang harus terus mereka hadapi.

Bukan itu saja, sebagian orang beranggapan dengan menikah atau mempertahankan pernikahan yang tidak bahagia mereka akan berada dalam kondisi ‘terjajah’. Selain itu, pernikahan juga dirasa akan membatasi mereka dalam meraih ambisi dan merengkuh puncak karier yang diimpikan.

Satu hal lagi, ada dorongan dari dalam untuk menunjukkan jika mereka mandiri. Baik secara mental maupun material. Dengan begitu mereka berhak untuk bahagia dan menikmati hidup. Jadi, untuk apa menikah atau berada dalam satu komitmen dengan orang lain jika sendiri saja telah bahagia dan merdeka.

Tetap Butuh orang lain

Boleh saja memilih single. Namun, harus sepenuhnya diingat jika manusia adalah makhluk sosial yang tetap membutuhkan orang lain. Terlebih, peran keluarga.

Bisa saja memilih bebas dari segala bentuk hubungan, namun bagaimana bisa memutuskan hubungan dengan keluarga? Apalagi, jika para single telah memiliki anak, baik anak kandung atau pun anak angkat. Toh, tidak sedikit kaum single yang memutuskan mengadopsi anak, baik untuk alasan kemanusiaan atau pun kelengkapan hidup.

Minimalkan risiko dan jangan merepotkan

Sebagai manusia, siapa bisa menjamin jika kaum single kebal terhadap segala macam risiko? Bukankah menjadi tua, sakit, kecelakaan, dan kematian adalah sesuatu yang bersifat pasti? Hanya saja kapan waktunya (selain menjadi tua) masa itu datang yang tidak bisa diperkirakan.

Yang menjadi pertanyaan, sudahkah kaum single menyiapkan payung pengaman jika sewaktu-waktu sesuatu yang buruk dan tak terduga itu datang? Boleh saja memiliki tabungan seabreg. Maklum, bukankah selagi muda dan sehat para single sangat bersemangat mengejar karier dan mengumpulkan pundi-pundi uang?

Namun, tetap saja harus diingat, tabungan saja tidak cukup untuk menggaransi diri. Terlebih di usia yang kian menua. Tak hanya fisik yang makin melemah, berbagai penyakit yang dulunya bersembunyi kini mulai eksis, unjuk gigi.

Payung Asuransi Tepat

Para single sejak awal harus lebih sadar diri akan pentingnya asuransi untuk membentengi diri. Wajar, karena kaum single memang tak leluasa bergantung pada keluarga jika sesuatu terjadi.

Saat memutuskan dengan sadar untuk menjadi single, dia harus berpikir jauh ke depan dan menyiapkan diri terhadap berbagai risiko. Saat mulai renta dan tak mampu lagi beraktivitas, dia harus ter-back up aman. Apalagi, jika penyakit kritis ikut ambil bagian.

Jangan sampai, merdeka di masa muda justru harus berakhir dengan terbelenggu masalah di hari tua. Parahnya lagi, jika harus merepotkan anak atau, bahkan, keluarga besar.

Tak salah lagi, sejak muda kaum single harus memiliki asuransi yang menjamin hidup di masa tua. Baik itu asuransi jiwa maupun kesehatan. Dua hal inilah yang menjadi kebutuhan setiap manusia, terutama di usia yang kian menua.

Asuransi AXA Mandiri Hospitalife bisa dipertimbangkan sebagai teman di usia yang makin senja. Kewajiban membayar premi selama empat tahun dengan masa pertanggungan selama 12 tahun adalah manfaat sekaligus keuntungan.

Yang menarik, premi juga akan kembali 100% kendati sempat melakukan beberapa kali klaim pada batas waktu yang telah ditentukan. Atau, premi akan dibayar penuh jika nasabah meninggal dunia. Dengan begitu, para single memastikan diri tak merepotkan keluarga secara finansial jika risiko terburuk harus terjadi.

Nah para single, jangan menjadi egois saat memutuskan sorangan. Bijaksanalah untuk membekali diri dengan payung asuransi tepat. Dengan begitu, hidup tak hanya makin nyaman, namun juga tak merepotkan anggota keluarga. Terutama, anak-anak.

#AsuransiKesehatan

Baca juga:
Gempa Guncang Aceh, Sedia Payung Asuransi
Jangan Puas di Zona Nyaman, Bos Tetap Butuh Asuransi

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama