Saat Nakhoda Tumbang, Biduk Kapal Tetap Aman

Setiap keluarga pasti memiliki rencana indah ke depan. Namun, kadang sesuatu tak berjalan sesuai rencana. Payung pengaman pun harus disiapkan sejak dini. Terutama, bagi penopang keluarga.

Setiap keluarga pasti memiliki impian manis untuk meraih yang terindah, bukan hanya untuk saat ini namun juga di masa mendatang. Apalagi, jika keluarga itu telah memiliki anak-anak sebagai penerus keturunan.

Ya, setiap orangtua pasti akan berjuang mati-matian untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Segala sesuatu pun disiapkan, mulai tabungan hingga asuransi pendidikan sekaligus asuransi jiwa. 

Mereka harus menjamin jika perjalanan anak-anak dalam meraih impian tak memiliki kendala.

Singkat kata, banyak orangtua menitikberatkan pada “yang penting anak”. Kepentingan anak ditempatkan paling tinggi dari kepentingan lainnya. Tidak salah, memang. 

Namun, para orangtua sering lalai untuk mempertimbangkan bagaimana jadinya jika sesuatu yang buruk terjadi pada diri mereka sendiri di saat anak-anak belum siap mandiri. Terutama, musibah yang terjadi pada penopang keluarga.

Ibarat kapal, pernahkan berpikir apa yang akan terjadi jika sesuatu terjadi pada nakhoda kapal? Pernahkah membayangkan bagaimana nasib kapal jika musibah menimpa Sang Nakhoda? 

Inilah yang kerap dilupakan oleh orangtua. Padahal, musibah seperti kematian, sakit, kecelakaan, atau pun lainnya adalah sesuatu yang pasti, mungkin terjadi, dan tidak bisa diprediksi kapan dia datang.

Meninggal Dunia Sesuatu yang Pasti

Siapa bisa menyangkal jika seluruh makhluk hidup di dunia ini akan mati? Ya, kematian adalah sesuatu yang pasti. Hanya saja, kapan datangnya kematian tidak ada satu pun yang tahu.

Orangtua rela bekerja keras membanting tulang demi anak-anaknya. Penopang keluarga (bisa ayah atau ibu, bahkan keduanya) tak kenal lelah mencari nafkah bagi keluarga. 

Ayah akan mencurahkan segenap tenaganya untuk bisa memenuhi kebutuhan keluarga, bahkan sering kali tak merasakan sakit yang diderita.

Kemajuan zaman telah mengubah manusia ibarat mesin. Dalam hitungan menit atau jam seseorang bisa bergerak di berbagai tempat untuk beraktivitas. Begitu pun dengan pekerjaan. 

Tiba-tiba penopang keluarga bekerja di kota atau negara Z. Pada saat lainnya dia sudah berpindah tugas ke kota atau negara Y.

Sekali lagi tak ada masalah sepanjang kemajuan teknologi bisa diandalkan. Dalam hitungan detik atau menit, sejumlah dana bisa ditransfer untuk keperluan keluarga. Namun, apa jadinya jika penopang keluarga ‘dipanggil’ mengadap Yang Kuasa?

Menjadi Tua dan Ancaman Penyakit Kritis

Jika seandainya manusia diberi limpahan umur panjang, siapa bisa menolak takdir untuk menjadi tua? Sama halnya dengan kematian menjadi tua adalah sesuatu yang pasti datangnya. Tidak ada satu makhluk pun yang bisa menolak untuk menjadi tua.

Jika masa tua datang, sudah tentu kemampuan fisik dan lainnya tidak lagi sama. Saat itu kita pun tidak lagi bisa bekerja dan mencari nafkah seperti saat-saat masa produktif. Karyawan pun sudah berada di masa pensiun pada usia ini.

Pendapatan, sudah pasti berbeda. Bahkan, bisa jadi nol. Masalah akan makin keruh saat segala macam penyakit yang dulu jauh kian mendekat seiring kurangnya kemampuan fisik. Siapa juga yang tidak bisa sakit? Orang tua atau pun anak muda pasti pernah sakit. 

Bahkan, anak-anak sekali pun. Fatalnya adalah, bagaimana jika itu penyakit kritis yang membutuhkan biaya banyak. Bukan rahasia lagi, biaya kesehatan begitu mahalnya saat ini.

Nah, bisa dibayangkan apa jadinya jika sesuatu yang fatal terjadi di masa tua? Atau bahkan sesuatu itu terjadi di usia-usia produktif? 

Faktanya, penyakit kritis seperti jantung, gagal ginjal, kanker, dan stroke menyerang tidak saja saat usia tua menjelang. 

Penyakit-penyakit mematikan itu juga banyak menyerang orang-orang  muda yang produktif karena tingginya tekanan dan buruknya gaya hidup.

Musibah dan Kecelakaan

Tak beda dengan  sakit, setiap manusia juga berpeluang mengalami musibah dan kecelakaan. Apalagi, hidup di kota besar dengan tingkat mobilitas dan kriminalitas yang tinggi. Siapa pun berpeluang menjadi korban.

Kecelakaan bisa saja menimbulkan cacat fisik. Fatalnya jika cacat tersebut masuk kategori cacat total yang membuat kita tak bisa lagi melakukan kegiatan produktif. 

Apa jadinya jika hal itu menimpa nahkoda? Tentu biduk kapal akan guncang. Tanpa badai saja, kapal akan berjalan oleng, apalagi jika badai pun datang.

Perlunya Payung Asuransi

Payung asuransi adalah sebuah kebutuhan yang kian mendesak seiring tingginya tekanan hidup dan perubahan gaya hidup. Hanya saja, kesadaran pentingnya asuransi masih minim, bahkan di kalangan kelas menengah dengan penghasilan memadai.

Mereka justru menganggap mengasuransikan mobil, rumah dan aset lainnya lebih penting. Banyak yang lalai, penopang keluarga justru aset paling berharga yang harus digaransi dengan asuransi. 

Sang nakhoda tidak sadar jika asuransi adalah bukti cinta untuk keluarga yang menjamin biduk kapal tetap aman jika sesuatu yang fatal terjadi padanya.

Asuransi Mandiri Hospitalife

Ada banyak produk asuransi ditawarkan. Masing-masing memiliki kelebihan. Salah satunya Mandiri Hospitalife dari AXA Mandiri. 

Selain rawat inap harian, produk asuransi ini juga dilengkapi manfaat satunan rawat inap akibat penyakit tropis (demam berdarah/malaria), perawatan intensif, dan rawat inap di ruang ICU dengan tak kurang 953 rekanan rumah sakit.

Bukan itu saja, masa pertanggungan diberikan selama 12 tahun kendati hanya membayar premi selama 4 tahun. Premi pun akan kembali 100% kendati ada klaim. Premi juga akan dibayar penuh jika nasabah meninggal.

Kabar baiknya lagi, jika Anda mengajukan aplikasi asuransi secara online melalui KreditGoGo, aplikasi tersebut akan diproses tanpa melalui persyaratan medical check up.

Nah, tunggu apalagi? Jangan menunggu hingga tua untuk mengasuransikan diri. Apalagi, jika Anda penopang keluarga. Asuransi yang dimiliki sedari muda berbiaya lebih murah dengan berbagai keuntungan.

Ingat, menjadi tua, sakit dan meninggal adalah sesuatu yang pasti. Bedanya adalah situasi dan kondisi saat hal itu datang. Bijaksanalah menyambut situasi sulit itu, terutama bagi keluarga.

Baca Juga:

Alasan Kenapa Ibu Rumah Tangga Juga Butuh Asuransi
Inilah Perlindungan Asuransi Bagi yang Sudah Menikah


0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama