Polemik Bencana Kabut Asap dan Pembukaan Lahan

Beberapa bulan terakhir ini asap menyerang beberapa wilayah di Sumatra dan Kalimantan. Sudah banyak korban yang meninggal, Apakah ini termasuk bencana alam?

Asap akibat pembakaran lahan untuk membuka lahan perkebunan kelapa sawit belum juga hilang. Hampir seluruh wilayah Sumatra dan Kalimantan merasakan kabut asap yang sudah melewati batas polusi yang berbahaya.

Kabar baiknya beberapa hari yang lalu hujan lebat turun di sebagian wilayah Sumatera dan Kalimantan. Hujan tersebut akibat kombinasi hujan buatan dan hujan alami, sehingga kepekatan asap di wilayah terdampak asap pun berkurang.

Mengutip dari Kompas.com Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho melalui siaran pers, Rabu (28/10/2015) memaparkan hujan telah menyebabkan jarak pandang dan cuaca membaik.

Sebelumnya indeks kualitas udara di Riau, Jambi dan Palangkaraya selalu dalam level berbahaya.

Kerugian yang Disebabkan


Bencana asap akibat pembakaran lahan memang bukanlah kejadian yang pertama, sebelumnya pada tahun 1997 becana asap pun sudah menyerang Indonesia. Sampai tahun ini bencana asap terus berulang, dari tahun ke tahun seperti tidak ada solusi atau pencegahan tegas untuk menanggulanginya.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan total lahan yang terbakar di Sumatra dan Kalimantan mencapai 1,7 juta hektar dengan titik api sekitar 1.800 pada Minggu (25/10) , jauh lebih kecil dibandingkan pada tahun 1997 yaitu 9,7 juta hektar.

Tetapi dampak pembakaran hutan kali ini lebih besar, tidak terkecuali kerugian yang dihasilkan. Dari sektor penerbangan Garuda Indonesia menyebutkan potensi kerugian sampai Oktober ini mencapai US$8 juta atau Rp109 miliar, sampai tanggal 25 Okrtober kemarin sudah 1.600 penerbangan batal.

Selain itu terjadi juga penurunan okupansi hotel di beberapa wilayah Sumatra dan Kalimantan yang cukup drastis. Kabut asap yang terjadi di enam provinsi juga menganggu aktivitas perdagangan dan ekonomi masyarakat.

Produksi tanaman pangan dan sayuran di ladangnya menurun sampai 40% karena proses produksi tanaman yang mengandalkan sinar matahari terhalang kabut asap.

Penyebab Kebakaran dan Keuntungan yang Diperoleh


Kebakaran hutan di Indonesia yang terus terulang setiap tahun, penyebabnya sebagian besar oleh faktor manusia. Berdasarkan laporan sebuah lembaga riset, lebih dari 90 persen kebakaran hutan disebabkan karena manusia, atau sengaja dibakar. Tujuannya adalah membuka lahan baru

Pembukaan lahan dengan cara membakar hutan kerap menjadi hal yang paling sering dilakukan baik oleh perorangan maupun perusahaan. Pembakaran hutan menjadi pilihan yang paling murah dan mudah untuk mengubah lahan hutan menjadi kebun kelapa sawit, kebun karet, dan lahan pertanian lainnya

Riset CIFOR mencatat bahwa terjadi kenaikan harga lahan sekitar Rp 3 juta setelah pembakaran lahan.Sebelum terbakar, harga lahan berkisar Rp 8 juta, dan setelah terbakar menjadi Rp 11 juta per hektar. 

Beda lagi jika telah ditanami sawit, harganya naik, sekitar Rp 50 juta, dan bisa mencapai Rp 100 juta per hektar apabila ditanami sawit bibit unggul. Saat ini kelapa sawit menjadi "emas hijau" yang banyak diincar investor.

Mulai dari perusahaan raksasa hingga investor perorangan karena merupakan investasi paling menguntungkan. Sebanyak 25 perusahaan menguasain lahan sawit sebesar 5,1 Juta hektar (seluas pulau jawa).

Perluasahan lahan untuk kelapa sawit pun sangat pesat, pertahunnya mencapai 520 ribu hektar atau seluas pulau bali. 5 Grup perusahaan menguasain 62% lahan sawit di Kalimantan dan 32% di Sumatra. Kekayaan total yang didapat 25 perusahaan tersebut adalah Rp 922,3 triliun, angka yang fantastis.

Status Bencana


Lantas bencana asap ini bisa dikatakan bencana alam atau tidak? Seperti halnya kasus lapindo. Ada isu yang bergulir jika bencana asap ingin dijadikan sebagai bencana nasional.

Tetapi pemerintah belum mau menetapkan kabut asap sebagai bencana nasional. Menetapkan suatu bencana sebagai bencana nasional tidak bisa seenaknya sebab ada undang-undang dan syarat yang harus diikuti.

Jika memang ditetapkan sebagai bencana nasional apa penangananya sama seperti kasus lumpur lapindo. Lumpur Lapindo ditetapkan sebagai bencana nasional dan ganti rugi hanya dibebankan kepada Pemerintah saja.

Lalu bagaimana korban yang menderita penyakit gangguan pernafasan apakah mendapat jaminan atau asuransi? Ada beberapa jenis asuransi yang bisa melindungi korban bencana diantaranya asuransi kecelakaan diri atau personal accident, asuransi kesehatan, ataupun asuransi perjalanan.

Semoga saja kabut asap ini tidak berlangsung lebih lama lagi dan masalah dapat teratasi. Jangan hanya karena sejumlah keuntungan yang manusia nikmati, mengakibatkan kerugian yang panjang bagi alam dan masyarakat Indonesia.

(Source Image 1) 

(Source Image 2)

(Source Image 3)

(Source Image 4)


0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama