Orang Indonesia Masih Pelit Beli Asuransi

Meledaknya pertumbuhan penduduk kelas menengah di Indonesia ternyata tak berbanding lurus dengan pertumbuhan pengguna asuransi. Mengapa bisa begitu? Ini dia jawabannya.

Asuransi, sebuah kata yang banyak dikenal sebagai perlindungan jika seseorang terkena musibah. Mengingat kejadian semacam itu bisa menciptakan kerugian secara finansial, maka diperlukan unit proteksi atas kerugian finansial yang dialami.

Karena itulah, fungsi utama dari asuransi adalah sebagai perlindungan. Namun, sudahkan Anda menggunakan produk ini?

Ada fakta yang menyebutkan bahwa kesadaran masyarakat Indonesia untuk melindungi dirinya semakin besar, terutama untuk kategori proteksi jiwa yang penggunaannya naik hampir 100 persen.

Dari data yang dirilis oleh Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), jumlah pemegang polis sepanjang tahun 2013 melompat hingga 92,5 persen menjadi 88,13 juta orang. Sangat tinggi bukan?

Perlindungan Asuransi

Optimis Pasar Terus Tumbuh

Dibandingkan periode 2012, pengguna produk proteksi jiwa hanya berjumlah 45,77 juta. Karena itu, Ketua Umum AAJI, Hendrisman Rahim, optimis peningkatan signifikan tersebut adalah sinyal positif kalau perkembangan pasar perlindungan jenis ini akan terus tumbuh ke depannya.

Pada kuartal keempat tahun lalu, jumlah tertanggung yang berasal dari individu dan kelompok tercatat meningkat cukup signifikan.

Untuk pemilik polis individu meningkat sebanyak 24 persen menjadi 13,62 juta orang. Sementara untuk tertanggung kelompok atau perkumpulan naik 114,2 persen.

Secara tahunan, Hendrisman mengatakan bahwa total penerimaan premi perlindungan jiwa pada tahun 2013 melonjak 5,8 persen menjadi Rp 113,9 triliun dari periode sebelumnya yang hanya Rp 107,7 triliun.

Pertanyaannya, bila penggunaan proteksi diri melonjak drastis, bagaimana pasar asuransi Indonesia secara keseluruhan? Apakah semakin cerah atau malah masih suram?

Kesadaran Asuransi Masyarakat Indonesia Tumbuh

Ini dia jawabannya. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Swiss Re di 6 negara, kesadaran berasuransi masyarakat Indonesia memang sudah semakin tumbuh, namun hal itu rupanya tidak diikuti dengan pembelian produk proteksi.

Ironis, mungkin itu adalah kata yang tepat untuk menggambarkan industri ini. Sebagai buktinya, penetrasi pertumbuhan pasar ini masih kurang dari 2 persen!

Vice President of Client Markets Medical Insurance Swiss Re, Williem Hoesen, mengatakan, sebanyak 89 persen penduduk Tanah Air sudah menyadari pentingnya asuransi kesehatan. Namun hanya 17 persen saja yang akhirnya memutuskan untuk membeli produk tersebut.

Bertolak belakang dengan Indonesia, di negara tetangga, Malaysia, di samping tingkat melek yang memang sudah tinggi, warga yang sudah memegang polis proteksi diri juga begitu banyak hingga 81 persen.

Selain Negeri Jiran tersebut, masyarakat di China yang sudah menyadari pentingnya perlindungan ini sudah mencapai 94 persen. Sementara yang sudah menjadi tertanggung sebesar 85 persen.

Memang, bukan hanya Indonesia saja yang pertumbuhan pengguna asuransinya kecil. Seperti di India, dari 95 persen penduduk yang tahu akan pentingnya kebutuhan ini, nyatanya hanya 17 persen saja yang sudah menggunakannya.

Begitu juga dengan Thailand, warga melek asuransi di Negeri Gajah Putih sebenarnya ada 87 persen, namun yang memutuskan memiliki produk ini cuma 30 persen.

Penduduk Indonesia sebenarnya mampu membeli produk asuransi. Hal ini terlihat dari tumbuh suburnya masyarakat ekonomi kelas menengah.

Mr.Crab, sosok kartun terkenal pelit

World Bank menyebutkan, sebesar 56,5 persen dari 237 juta populasi Indonesia sudah masuk ke dalam kategori kelas menengah (mid-class). Artinya, sekarang sudah ada 134 juta masyarakat yang sudah masuk ke dalam tingkat finansial ini.

Untuk informasi, kategori kelas menengah, menurut Bank Dunia adalah mereka yang mampu membelanjakan uang hingga USD 2 sampai 20 per hari.

Masih dari Bank Dunia, nilai uang yang dibelanjakan warga kelas menengah di Indonesia juga fantastis. Pengeluaran untuk membeli pakaian dan alas kaki di tahun 2010 sebesar Rp 113,4 triliun, barang rumah tangga dan jasa Rp 194,4 triliun, plesir di luar negeri Rp 59 triliun, dan biaya transportasi Rp 238,6 triliun. Wow!

Berdasarkan data tersebut, tidak heran kalau penduduk kita dikenal sangat konsumtif. Bagaimana tidak, dari sisi finansial, kemampuan mereka dalam menghabiskan duit bisa dibilang cukup tinggi.

Tapi, apakah setimpal bila Anda terus menghabur-hamburkan uang untuk menyenangkan diri sendiri namun tidak bisa membiayai biaya kesehatan? Tentu tidak bukan. Karena itu, perlu ada edukasi dan sosialisasi ekstra untuk menumbuhkan kesadaran terhadap proteksi risiko.

Karena itu, ayo mulai berasuransi, dan cerdas mengatur keuangan ya!

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama