Mengenal Lebih Dekat Asuransi Syariah

Asuransi syariah menghadirkan konsep serta memberikan keuntungan yang berbeda dari asuransi konvensional. Yuk, kenal lebih dekat apa itu asuransi syariah.

Sebelum menjelaskan lebih jauh tentang asuransi syariah, ada baiknya kami jelaskan sedikit mengenai konsep dari asuransi konvensional sebagai perbandingannya.

Dalam asuransi konvensional, pemegang polis membayar premi kepada perusahaan asuransi. Perusahaan memiliki premi tersebut dan membayar uang pertanggungan jika terjadi klaim. Sehingga dalam asuransi konvensional, risiko dan keuntungan adalah di perusahaan asuransi. Terjadi pemindahan risiko (transfer) dari peserta ke perusahaan asuransi.

Sedangkan asuransi syariah, konsep dan definisinya berbeda, yaitu risiko dibagi antar peserta asuransi. Caranya, peserta membayarkan kontribusi yang dikumpulkan ke dalam rekening bersama yang disebut tabarru’.

Tabarru’ adalah sumbangan atau derma (dalam definisi Islam adalah hibah). Sumbangan atau derma (hibah) atau dana kebajikan ini diberikan dan diikhlaskan oleh peserta asuransi syariah jika sewaktu-waktu akan dipergunakan untuk membayar klaim atau manfaat asuransi lainnya.

Setiap kali terjadi klaim, pembayaran dilakukan dengan memotong tabarru’ tersebut. Dana kumpulan bukan milik perusahaan asuransi, melainkan milik peserta asuransi syariah.

Dalam pertanggungan asuransi syariah, proses hubungan peserta adalah sharing of risk (saling menanggung risiko). Apabila terjadi musibah, maka semua peserta asuransi syariah saling menanggung. Tidak seperti asuransi konvensional yang terjadi transfer risiko dari peserta ke perusahaan asuransi.

Dalam konsep asuransi syariah, peranan perusahaan asuransi hanya sebagai pemegang amanah dalam mengelola dan menginvestasikan dana dari kontribusi peserta, serta harus sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Perusahaan asuransi disewa oleh peserta dengan membayar komisi.

Diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah

Untuk memastikan bahwa prinsip syariah diterapkan secara benar oleh perusahaan asuransi syariah, Majelis Ulama Indonesia (MUI) membentuk Dewan Syariah Nasional (DSN).

Dimana, DSN bertugas mengawasi pelaksanaan prinsip ekonomi syariah di Indonesia, termasuk mengeluarkan fatwa atau hukum yang mengaturnya.

Dewan Pengawas Syariah (DPS) wajib ada di setiap lembaga keuangan syariah. DPS merupakan perwakilan DSN yang bertugas memastikan lembaga keuangan tersebut telah menerapkan prinsip syariah secara benar.

Investasi Harus Dilakukan di Efek Syariah

Salah satu ciri asuransi syariah adalah investasi harus dilakukan hanya di efek syariah. Efek syariah memenuhi dua kriteria sebagai berikut.

1. Tidak melakukan kegiatan usaha yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah, misalnya:

  • Perjudian, perdagangan yang tidak disertai dengan penyerahan barang/jasa, perdagangan dengan penawaran/permintaan palsu, jasa keuangan ribawi, dan jual beli risiko yang mengandung unsur ketidakpastian (gharar).
  • Memproduksi, mendistribusikan, memperdagangkan dan/atau menyediakan antara lain barang atau jasa haram zatnya (haram li-dzatihi), barang atau jasa haram bukan karena zatnya (haram li-ghairihi) yang ditetapkan oleh DSN-MUI, dan/atau melakukan transaksi yang mengandung unsur suap (risywah).

2. Memenuhi rasio keuangan sebagai berikut:

  • Total utang berbasis bunga dibandingkan dengan total ekuitas tidak lebih dari 82%.
  • Total pendapatan bunga dan pendapatan tidak halal lainnya dibandingkan dengan total pendapatan usaha (revenue) dan pendapatan lain-lain tidak lebih dari 10%.

Berdasarkan kedua kriteria tersebut, pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan Daftar Efek Syariah (DES), yaitu kumpulan efek yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah di pasar. DES merupakan panduan investasi untuk investor yang ingin berinvestasi pada portofolio efek syariah.

Baca juga: Inilah Cara Menghitung Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa

Manfaat Memiliki Asuransi Syariah

Berikut adalah beberapa manfaat dari asuransi syariah.

  • Perlindungan jiwa, kecelakaan dan cacat tetap serta rencana keuangan sesuai prinsip syariah. Melalui pembayaran kontribusi berkala, peserta dapat menentukan besaran manfaat pertanggungan.
  • Pembebasan kontribusi dasar. Apabila terjadi ketidakmampuan total yang disebabkan oleh penyakit ataupun kecelakaan, peserta bisa menikmati manfaat asuransi meskipun dalam situasi ketidakmampuan total.
  • Perlindungan biaya kesehatan. Penggantian biaya perawatan rumah sakit yang disebabkan oleh penyakit dan kecelakaan. Dilengkapi fasilitas cashless yang mempermudah perawatan di rumah sakit tanpa pembayaran tunai, serta layanan tersedia setiap hari dengan jaringan rumah sakit rekanan di seluruh wilayah Indonesia.

Jadi, apakah Anda tertarik untuk memiliki asuransi syariah? Jika iya, jangan lupa untuk memeriksa kelengkapan administrasi serta reputasi perusahaan. Sebab, setiap perusahaan asuransi syariah mempunyai ketentuan, cara, serta proses yang berbeda-beda.

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama