Ini Kuda-kuda Traveler Hadapi Ancaman Malaria

Traveler selalu bersemangat menaklukkan destinasi wisata menarik, bahkan menantang. Namun, terkadang muncul kendala seperti penyakit. Pasang kuda-kuda pun harus segera dilakukan.

Layaknya Dr Henry Walton Jones Jr atau lebih ngetop dipanggil Indiana Jones, traveler serasa berpetualang menyambut setiap perjalanan. Itu sebabnya, traveling selalu menggairahkan. Selalu ada yang baru di setiap perjalanan.

Sayangnya, tidak semua perjalanan berlangsung mulus. Terkadang traveling terkendala cuaca atau hal lain. Berbagai ancaman, sadar atau tidak, terkadang muncul di depan mata.

Saat menyaksikan padang savana menawan di belantara Afrika, yang muncul ke permukaan hanyalah rasa takjub. Begitu pun saat merasakan usapan angin di berbagai pantai dengan panorama bak lukisan. Juga saat menaklukkan belukar gunung atau bukit yang seperti ditata elok oleh tangan Tuhan.

Sama sekali tak terpikir bahaya mengancam. Namun, seiring makin tingginya jam terbang, makin banyak traveler menyadari beberapa kendala atau ancaman di balik destinasi wisata. Terutama, spot-spot wisata yang masih perawan.

Ancaman malaria, salah satunya. Maklum, malaria banyak berkembang di negara tropis seperti Indonesia. Kementerian Kesehatan menyebut, saat ini ada lima provinsi di Indonesia masih endemis tertinggi malaria, yakni Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Tentu, bukan berarti kawasan lain telah aman dari penyakit akibat parasit Plasmodium melalui gigitan nyamuk Anopheles ini.

Destinasi wisata menarik

Kawasan Indonesia Timur dikenal sebagai kawasan rawan malaria. Padahal, siapa bisa menyangkal jika kawasan tersebut kaya akan destinasi wisata menawan. Papua dan Papua Barat misalnya, menyimpan kekayaan alam yang makin berkibar saat ini seperti Raja Ampat dan Teluk Triatlon.

NTT tak bisa disepelekan untuk spot-spot wisata elok. Sebut saja Lembata yang menyajikan spot wisata laut potensial. Destinasi ini jadi primadona turis lokal atau pun asing yang hobi berat snorkeling.

Sayang, nyamuk malaria jadi momok di daerah perbukitan tandus di pesisir pantai ini. Bahkan, saking suburnya nyamuk merajalela, ada satu kawasan dinamai Kampung Nyamuk.

Lembata bukan satu-satunya tempat di NTT yang jadi favorit nyamuk malaria. Labuan Bajo yang begitu cantik juga rawan malaria. Padahal, spot wisata menawan ini adalah gerbang menuju Pulau Komodo dan destinasi wisata cantik lainnya di NTT.

Bahaya Malaria

Memang wabah malaria telah mengalami penurunan hingga 0,85persen per 1.000 orang? pada 2015. Namun, tetap saja ancaman salah satu penyakit tropis ini harus diwaspadai. Berdasarkan data WHO, malaria membunuh satu anak di dunia setiap 30 detik. Ada sekitar 300-500 juta orang terinfeksi dan sekitar 1 juta orang meninggal karena penyakit ini setiap tahunnya.

Saat ini tercatat empat jenis malaria yang disebabkan varian parasit sama, yakni Plasmodium Vivax, Plasmodium Ovale, Plasmodium Falciparum, dan Plasmodium malariae. Jenis yang terakhir bisa menyebabkan sistem kekebalan tubuh rusak parah.

Ketika parasit Plasmodium masuk tubuh. Dia akan berkembang biak di hati dan selanjutnya menginfeksi sel darah merah. Gejala awal yang ditunjukkan mirip influenza. Kelihatannya sepele, namun jika tidak segera diobati akan menyebabkan komplikasi yang berujung kematian.

Pencegahan

Sudah pasti langkah antisipasi jauh lebih baik daripada pengobatan setelah terjangkit. Oleh sebab itu para traveler harus menyiapkan beberapa langkah sebelum mendatangi kawasan rawan malaria.

Siapkan pakaian tertutup yang melindungi tubuh dari gigitan nyamuk. Hal ini diimbangi dengan mengonsumsi obat profilaksis atau pencegahan seperti doxycycline seminggu sebelum dan setelah pulang dari wilayah serta selama berada di lokasi.

Tak kalah penting, usahakan mengatur suhu ruang di bawah 20 derajat Celcius. Sebab, nyamuk tidak aktif pada suhu tersebut. Selain itu, jangan lupa gunakan lotion anti nyamuk saat berada di luar ruangan.

Gejala

Ada beberapa gejala malaria ditunjukkan jika langkah-langkah pencegahan gagal, yakni malaria ringan tanpa komplikasi dan malaria berat dengan komplikasi. Namun secara umum, gejala ditunjukkan dengan tanda demam dan mengigil, sakit kepala, mual-mual, muntah, diare, dan nyeri otot.

Pada kategori malaria ringan, gejala terbagi pada tiga stadium, yakni stadium dingin, demam, dan berkeringat. Sedangkan pada kategori berat membutuhkan pemeriksaan laboratorium. Beberapa komplikasi akan berujung pada kondisi fatal seperti koma, kejang-kejang, suhu tubuh tinggi, hingga sesak nafas.

Sudah pasti harus ditangani paramedis jika situasinya serius.Beberapa obat yang harus dikonsumsi dan tindakan-tindakan yang harus dilakukan, tentu, membutuhkan dana tidak sedikit.

Para traveler, terutama yang gemar menjelajah kawasan rawan malaria, harus mulai pasang kuda-kuda untuk mengantisipasi hal ini. Mandiri Hospitalife pantas dijadikan teman agar hasrat bertualang tak terganggu.

Produk asuransi ini juga relatif tidak merepotkan bagi para traveler. Betapa tidak, kewajiban membayar premi hanya empat tahun dengan pertanggungan selama 12 tahun. Yang lebih menyenangkan lagi, AXA Mandiri Hospitalife juga menerapkan tanpa medical check up dan rawat inap bisa dilakukan di mana saja di seluruh Indonesia.

Masa pertanggungan selama 12 tahun tentu jadi garansi hasrat petualangan akan berlangsung aman. Yang lebih menguntungkan lagi, begitu masa pertanggungan selesai premi yang dibayarkan pun akan kembali 100% kendati ada klaim. Nah para traveler, segera ancang-ancang dan pasang kuda-kuda agar urusan bertualang tak terkendala.

Baca juga :

Alasan Wanita Wajib Punya Asuransi Kesehatan
Agar Biaya Rumah Sakit Tak Lagi Mencekik


0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama