Berapa Jumlah Klaim Kecelakaan Pesawat?

Tidak ada yang ingin mengalami kecelakan, baik perjalanan darat, air, atau udara. Namun jika terjadi, berikut jumlah klaim yang diterima ahli waris.

  • asuransi
  • asuransi kecelakaan
  • klaim asuransi
  • klaim
  • pesawat
  • asuransi pesawat
  • jasa raharja

Berita jatuhnya pesawat Air Asia QZ 8501 tentu sangat mengejutkan berbagai pihak. Ya, pesawat ini dikabarkan hilang kontak dengan Air Traffic Control (ATC) Jakarta pada tanggal 28 Desember 2014 pada pukul 07.55 WIB. Maskapai dengan jurusan Surabaya – Singapura ini menbawa sebanyak 162 penumpang termasuk dengan 7 awak pesawat, semuanya dinyatakan meninggal.

Sampai saat artikel ini ditampilkan, sudah berhasil dievakuasi sebanyak 34 jenazah dari lokasi kejadian, yaitu perairan Selat Karimata. Namun baru 9 jenazah yang sudah berhasil diidentifikasi dan dikembalikan pada pihak keluarga, yaitu Hayati Lutfiah Hamid, Grayson Herbert Linaksita, Kevin Alexander Soetjipto, Khairunnisa Haidar Fauzi, Hendra Gunawan Sawal, Themeiji Tejakusuma, Wismoyo Ari Prambudi, J. Stephanie Gunawan dan Juanita Limantara. Menurut pejabat BMKG, Profesor Edvin Aldrian, jatuhnya Air Asia QZ 8501 disebabkan oleh buruknya cuaca.

Duka mendalam pasti dirasakan oleh keluarga atau kerabat korban pesawat Air Asia QZ 8501. Maka dari itu, berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan nomor 77 tahun 2011, masing-masing korban akan mendapatkan ganti rugi berupa asuransi. Berikut nilai pertanggungan asuransi kecelakaan pesawat.

Besaran klaim menurut Konvensi Montreal

Berdasarkan Konvensi Montreal, tentang Unifikasi Aturan-Aturan Terkait Penerbangan Internasional, pihak maskapai wajib bertanggung jawab secara hukum untuk memberikan pertanggungan kepada penumpang. Besaran klaim dapat berubah dari waktu ke waktu, mengikuti laju inflasi global.

Konvensi yang memiliki mata uang khusus milik International Monetary Fund (IMF), Special Drawing Rights (SDR), menyatakan santunan untuk penumpang akan dibagi dalam dua tahap. Pertama, maskapai wajib membayar ganti rugi hingga 100.000 SDR atau Rp 1,77 miliar untuk penumpang meninggal dunia atau terluka dalam kecelakaan pesawat. Kedua, maskapai juga membayar biaya hidup keluarga yang ditinggalkan yang merupakan suatu bentuk itikad baik perusahaan terhadap keluarga korban meninggal.

Peraturan asuransi kecelakaan pesawat Indonesia

Seperti yang telah tertulis di Peraturan Menteri Perhubungan nomor 77 tahun 2011, jumlah ganti kerugian terhadap penumpang yang mengalami kecelakaan pesawat sehingga mengakibatkan meninggal dunia, adalah sebesar Rp1,250 miliar per orang.

Menurut Tengku Burhanudin, Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carrier Association (INACA), jumlah tersebut sudah dinilai besar karena mendekati nilai yang ditetapkan oleh Konvensi Montreal. Di Negara lain, mereka hanya memberikan santunan sebanyak USD 40 - 70 ribu atau sekitar Rp 500 – 875 juta per orang.

Asuransi dari Jasa Raharja

Tak hanya pihak maskapai yang memberikan asuransi, pemerintah Indonesia juga bertanggung jawab memberikan santunan melalui PT Jasa Raharja untuk para korban korban kecelakaan. Nilai pertanggungan yang diterima berbeda-beda, tergantung dari kondisi korban. Penumpang yang mengalami luka bisa mendapatkan santunan sebesar Rp 25 juta per orang. Sementara untuk yang meninggal atau cacat tetap nilainya akan jauh lebih tinggi, yaitu Rp 50 juta.

Klaim Tambahan Untuk Ahli Waris

Jika korban kecelakaan pesawat membeli asuransi perjalanan tambahan sebelum berangkat, maka ahli waris akan mendapatkan tambahan klaim di luar dari asuransi yang diberikan oleh maskapai dan pemerintah. Biasanya ini dijual terpisah melalui agen atau outlet di bandara.

Penumpang rupanya tak hanya mendapatkan santunan wajib PT Jasa Raharja. UU Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan mengatur bahwa ahli waris atau korban sebagai akibat kejadian angkutan udara juga berhak mendapatkan ganti kerugian tambahan selain ganti kerugian yang telah ditetapkan. Hanya saja, hak itu baru bisa didapatkan melalui putusan pengadilan.

Asuransi untuk pihak maskapai

Kecelakaan pesawat tak hanya menelan korban manusia, melainkan juga badan pesawat. Jadi, pihak maskapai pun berhak mendapatkan klaim asuransi atas kerugian yang dideritanya akibat kehancuran armadanya itu. Menurut Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), pihak maskapai yang mengalami kecelakaan tidak akan mengalami kerugian, karena asuransi akan menanggung semua kewajiban dan kerusakan.

Seperti dalam kasus kecelakaan pesawat Air Asia QZ 8501, asuransinya akan ditanggung oleh PT Jasindo yang mendapat backup dari lead insurance Allianz. Airbus A320-200 itu dibuat di Perancis pada Oktober 2008 dengan harga USD 73,2 – 80,6 juta atau sekitar Rp 915 miliar – Rp 1 triliun. Jadi, total klaim yang akan didapat oleh Air Asia adalah harga pesawat sejenis dipotong biaya penyusutan. Bentuk tanggungan yang diterima dapat berupa penggantian uang tunai atau rangka pesawat baru.


0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama