Apa Sih Asuransi Itu? (Bagian 1)

Sebagai bagian dari literasi keuangan, artikel ini membahas apa itu Asuransi (perlindungan risiko) bagi orang awam.

Pada dasarnya, asuransi merupakan suatu perlindungan diri, keluarga, serta harta benda, yang ada pada kita bila terjadi suatu musibah atau pun bencana.

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, mendengarkan penjelasan tentang asuransi malah hanya mengangguk-angguk kepala tanda mengerti. Padahal, belum tentu memahami dengan baik dan benar apa itu asuransi. Apalagi kalau sudah melihat agen asuransi yang menawarkan produk, orang sudah anti duluan.

Masalahnya sederhana. Pertama, kita harus mengerti diri sendiri dan luaskan pengetahuan; apa sih Asuransi itu? Apa saja jenis asuransi itu? Asuransi jenis apa sih yang kita perlukan? Pemahaman yang baik dan benar tentang Asuransi secara keseluruhan tentu akan memperluas sudut pandang kita tentang itu, sekaligus mengedukasi masyarakat secara lebih luas produk mana yang sesuai dan cocok untuk diambil.

Apa Sih Asuransi Itu?

Oke, sekarang mulai kita bahas. Sebagai bagian dari literasi keuangan, baiknya kita mulai dari pengertian dasar.

Menurut Wikipedia, Asuransi adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada tindakan, sistem, atau bisnis dengan perlindungan finansial (atau ganti rugi secara finansial) untuk jiwa, properti, kesehatan, dan lain sebagainya mendapatkan penggantian dari kejadian-kejadian yang tidak dapat diduga yang bisa terjadi, misalnya kematian, kehilangan, kerusahakan, atau sakit. Semua peristiwa itu melibatkan pembayaran premi secara teratur dalam jangka waktu tertentu sebagai ganti polis yang menjamin perlindungan tersebut.

Jika kita merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, Asuransi suatu bentuk pertanggungan. Pertanggungan yang dibuat antara dua pihak. Pihak yang satu berkewajiban membayar iuran dan pihak yang lain berkewajiban memberikan jaminan sepenuhnya kepada pembayar iuran apabila terjadi sesuatu yang menimpa pihak pertama atau barang miliknya sesuai dengan perjanjian yang dibuat.

Asuransi menurut Undang-undang

Undang-undang No 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian menyebutkan bahwa Asuransi adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan, atau kehilangan keuntungan yang diharapkan atau tanggung jawab hukum pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.

Masih menurut undang-undang ini, badan yang menyalurkan risiko disebut “tertanggung”, dan badan yang menerima risiko disebut “penanggung”. Perjanjian kedua badan ini disebut kebijakan, yaitu sebuah kontrak legal yang menjelaskan setiap istilah dan kondisi yang dilindungi. Biaya yang dibayar oleh “tertanggung” kepada “penanggung” untuk risiko yang ditanggung disebut “premi”. Ini biasanya ditentukan oleh “penanggung” untuk dana yang bisa diklaim di masa depan, biaya administratif, dan keuntungan.

Sementara itu menurut Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) tentang Asuransi dan Pertanggungan Seumurnya, Bab 9, Pasal 246, menyebutkan bahwa “Asuransi atau Pertanggungan adalah suatu perjanjian dengan mana seseorang penanggung mengikatkan diri kepada seorang tertanggung, dengan menerima suatu premi, untuk memberikan penggantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan, atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, yang mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa yang tak tertentu.”

Pada akhirnya, istilah “asuransi’ atau “diasuransikan” merujuk pada segala sesuatu yang mendapatkan perlindungan.

Asuransi Bekerja berdasarkan Prinsip Apa Sih?

Dalam dunia asuransi pada umumnya, ada 6 (enam) prinsip dasar yang menjadi pedoman bagi seluruh penyelenggaraan kegiatan perasuransian, khususnya di Indonesia.

Insurable Interest (Kepentingan yang Dipertanggungkan)

Ini adalah suatu hak untuk mengasuransikan, yang timbul dari suatu hubungan keuangan antara tertanggung dengan yang diasuransikan dan diakui secara hukum. Anda dikatakan memiliki kepentingan atas obyek yang diasuransikan apabila Anda menderita kerugian keuangan seandainya terjadi musibah yang menimbulkan kerugian atau kerusakan atas obyek tersebut. Kepentingan keuangan ini memungkinkan Anda mengasuransikan harta benda atau kepentingan Anda lainnya terkait keuangan. Apabila terjadi musibah atas obyek yang diasuransikan dan terbukti bahwa Anda tidak memiliki kepentingan keuangan atas obyek tersebut, maka Anda tidak berhak menerima ganti rugi.

Utmost Good Faith (Kejujuran Sempurna)

Ini adalah suatu tindakan untuk mengungkapkan secara akurat dan lengkap, semua fakta yang material (material fact) mengenai sesuatu yang akan diasuransikan baik diminta maupun tidak. Artinya, si penanggung harus dengan jujur menerangkan dengan jelas segala sesuatu tentang luasnya syarat/kondisi dari asuransi dan si tertanggung juga harus memberikan keterangan yang jelas dan benar atas objek atau kepentingan yang dipertanggungkan. Prinsip ini juga menjelaskan risiko-risiko yang dijamin maupun yang dikecualikan, segala persyaratan dan kondisi pertanggungan secara jelas dan teliti.

Indemnity (Indemnitas/Kerugian)

Ini adalah suatu mekanisme ketika penanggung menyediakan kompensasi finansial dalam upayanya menempatkan tertanggung dalam posisi keuangan yang ia miliki sesaat sebelum terjadinya kerugian (KUHD Pasal 252, 253, dan dipertegas kembali dalam Pasal 278). Jadi, si penanggung memberi ganti rugi kepada tertanggung untuk mengembalikan posisi keuangan setelah terjadi kerugian menjadi sama dengan sesaat sebelum terjadi kerugian.

Proximate Cause (Kausa Proksimal)

Apabila obyek kepentingan yang diasuransikan mengalami musibah atau kecelakaan, maka akan dicari sebab-sebab yang aktif dan efisien yang menggerakkan suatu rangkaian peristiwa tersebut tanpa terputus.

Subrogation (Subrogasi)

Pengalihan hak tuntut dari tertanggung kepada penanggung setelah klaim dibayar. Prinsip subrogasi (perwalian) ini berkaitan dengan suatu keadaan ketika kerugian yang dialami tertanggung merupakan kesalahan pihak ketiga (orang lain). Prinsip ini memberikan hak perwalian kepada penanggung oleh tertanggung jika melibatkan pihak ketiga. Dengan kata lain, apabila tertanggung mengalami kerugian akibat kelalaian atau kesalahan pihak ketiga, setelah memberikan ganti rugi kepada tertanggung, maka ABC (pihak ketiga) akan mengganti kedudukan tertanggung dalam mengajukan tuntutan kepada pihak penanggung.

Contribution (Kontribusi)

Ini adalah hak penanggung untuk mengajak penanggung lainnya yang sama-sama menanggung, tetapi tidak harus sama kewajibannya terhadap tertanggung untuk ikut memberikan indemnitas. Prinsip kontribusi berarti apabila penanggung telah membayar penuh ganti rugi yang menjadi hak tertanggung, maka penanggung berhak menuntut perusahaan-perusahaan lain yang terlibat suatu pertanggungan (secara bersama-sama menutup asuransi harta benda milik tertanggung) untuk membayar bagian kerugian masing-masing yang besarnya sebanding dengan jumlah pertanggungan yang ditutup. Namun untuk diketahui, prinsip ini tidak berlaku bagi asuransi jiwa dan asuransi kecelakaan diri yang berkaitan dengan meninggal dunia atau cacat tetap.

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama